Jumat, 03 Desember 2010

CINTAPUCCINO oleh: ILA NAVILAH

CINTA DALAM NOVEL CINTAPUCCINO
(Sebuah Kajian Sosiologis tentang Makna Cinta)


SKRIPSI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PURWOKERTO
2008



OLEH:
ILA NAVILAH
F1A004004


SUMMARY

Love is public construction because it is created through interaction between individual. Through the interaction process love get meaning which different each other causing love is exist and endless. Literature is one of media which have successfully preserve meaning of love. Literature as a mirror from public life where it is created always present love themes. This thing is because love theme always can make literary work become more draw to be enjoyed by reader. As does novel Cintapuccino.
Cintapuccino is novel by Icha Rahmanti is source of this research. Through literature study by using analytical method hermeneutik, hence this research will lay open the meaning of love in the novel. For the purpose, symbolic interaksionisme theory will be applied in explaining loves symbols in novels Cintapuccino to find meaning of love.
Result which obtained from this research is that meaning of love which implied in novel Cintapuccino cover obsession, motivation, life of a young woman in face of crisis in the life of work and love, is and also love supposing as beverage copied. Thereby, love have many meanings and facets depended how some ones comprehend him it.
Love is so immeasurable meant so it cannot be made none definition since love is too wide, and too height for placed at one definition. Therefore, man shall can look after love. Love is God’s invaluable award so that as His being, we have to take care of chastity of love meaning for taking place mankind life.



RINGKASAN

Cinta merupakan konstruksi dari masyarakat karena ia tercipta melalui adanya interaksi antar individu. Melalui proses interaksi tersebut cinta mendapatkan makna yang berbeda-beda sehingga cinta tetap selalu ada dan abadi dalam kehidupan masyarakat. Karya sastra merupakan salah satu media yang telah berhasil melestarikan makna cinta. Karya sastra sebagai cermin dari kehidupan masyarakat dimana karya sastra itu diciptakan selalu menyajikan tema-tema cinta. Hal ini karena tema cinta selalu dapat membuat suatu karya sastra menjadi lebih menarik untuk dinikmati pembaca. Seperti halnya novel Cintapuccino.
Novel Cintapuccino karya Icha Rahmanti merupakan sumber dalam penelitian ini. Melalui penelitian studi pustaka dengan menggunakan metode analisis hermeneutik, maka penelitian ini akan mengungkapkan makna cinta yang ada dalam novel tersebut. Untuk itu, teori interaksionisme simbolik akan digunakan dalam menjelaskan simbol-simbol cinta dalam novel Cintapuccino guna menemukan makna cinta.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa makna cinta yang terkandung dalam novel Cintapuccino meliputi obsesi, motivasi, kehidupan seorang perempuan muda dalam menghadapi krisis dalam kehidupan cinta dan pekerjaanya, serta pengibaratan cinta sebagaimana minuman kopi. Dengan demikian, maka cinta mempunyai banyak segi dan makna tergantung bagaimana seseorang memahaminya.
Cinta begitu beragam makna hingga ia tidak dapat dijadikan satu definisi saja karena cinta terlalu luas, dan terlalu tinggi untuk ditempatkan pada satu definisi. Oleh karena itu, hendaknya manusia dapat memelihara cinta. Cinta adalah anugerah Tuhan yang tidak ternilai sehingga sebagai makhuk-Nya, kita harus menjaga kesucian makna cinta untuk keberlangsungan hidup umat manusia.




KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk melengkapi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Strata Satu Jurusan Sosiologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman. Penulis menyusun skripsi dengan judul:
“CINTA DALAM NOVEL CINTAPUCCINO
(Sebuah Kajian Sosiologis tentang Makna Cinta)”
Penyusunan skripsi ini merupakan perjalanan yang cukup panjang bagi Penulis selama menempuh kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tentunya tidak lepas dari adanya peranan Bapak dan Ibu dosen selama dalam proses bimbingan belajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Tidak ada yang dapat Penulis berikan kepada Bapak dan Ibu dosen selain ungkapan terima kasih. Selain, itu Penulis haturkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan saran yang tidak ternilai. Penulis ucapkan terima kasih yang tulus kepada:
1. Bapak Drs. Bambang Kuncoro M. Si, selaku Dekan FISIP UNSOED
2. Bapak Drs. Joko Santoso M. Si, selaku Ketua Jurusan Sosiologi
3. Ibu Dra. Soetji Lestari M. Si, selaku Pembimbing Akademik
4. Bapak Drs. Nalfaridas Baharudin M. Hum, selaku Pembimbing I
5. Bapak Drs. Dalhar Shodiq M.Si, selaku Pembimbing II
6. Bapak Haryadi S. Sos, M.A, selaku Dosen Penguji
7. Semua pihak yang telah membantu dan mendukung terselesaikannya skripsi ini.


Penyusunan karya ini tentu masih banyak kekurangan. Hal ini tidak lepas dari keterbatasan kemampuan dalam penyusunan, sehingga Penulis mengharapkan adanya saran untuk mencapai kesempurnaan dalam karya tulis ini. Semoga karya ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi pembaca.



Purwokerto, Juli 2008


Penulis


















DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PENGESAHAN ii
HALAMAN MOTTO iii
HALAMAN PERSEMBAHAN iv
SUMMARY v
RINGKASAN vi
KATA PENGANTAR vii
DAFTAR ISI ix
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Perumusan Masalah 8
C. Pembatasan Masalah 9
D. Tujuan Penelitian 9
E. Manfaat Penelitian 10
BAB II LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA 11
A. Landasan Teori 11
B. Tinjauan Pustaka 18
C. Penelitian Sebelumnya 25
BAB III METODE PENELITIAN DAN ANALISIS DATA 29
A. Bahan Penelitian 29
B. Wujud Penelitian 29
C. Sumber Data 30
D. Analisis Data Penelitian 31
E. Tahap-tahap Penelitian 34
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 35
A. Tema Cinta dalam Karya Sastra 35
B. Sekilas tentang Icha Rahmanti 37
C. Cintapuccino: Sebuah Karya tentang Cinta 39
1. Sinopsis 39
2. Penokohan 41
3. Latar dan Alur Cerita 54
D. Makna Cinta dalam Novel Cintapuccino 57
1. Obsesi dan Cinta 57
2. Cinta dan Motivasi 63
3. Konflik sebagai Bagian dari Cinta 67
4. Cinta Seorang Perempuan Muda 72
5. Cinta Ibarat Kopi Capuccino 81
BAB V PENUTUP 85
A. Kesimpulan 85
B. Implikasi 86
DAFTAR PUSTAKA 87



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kehidupan keseharian masyarakat tidak pernah lepas dari dengung-dengung persoalan cinta. Pemahaman akan cinta yang ada dalam masyarakat sangat beragam, ada yang mengartikan cinta sebagai kedamaian dan ada pula yang menganggapnya sebagai suatu penyebab kehancuran. Banyak cerita cinta yang muncul dalam kehidupan masyarakat dan semuanya terangkum menjadi satu dalam setiap peristiwa yang dijalani manusia. Kisah cinta seolah tidak ada habisnya untuk diceritakan. Seringkali kisah-kisah percintaan ini dibuat dalam tulisan-tulisan seperti novel, cerita-cerita pendek dikoran dan majalah, film, drama televisi dan lain-lain, bahkan disetiap cerita yang disajikan diberbagai media cetak dan elektronik tidak dapat lepas dari adanya cerita cinta sehingga cinta dijadikan sebagai bumbu pemanis disetiap cerita yang disajikan.
Cinta memang selalu menarik untuk dijadikan topik pembahasan. Hal ini karena tema tentang cinta merupakan tema yang sudah biasa atau merupakan tema keseharian dalam kehidupan kita. Namun tema tentang cinta masih sangat jarang untuk dibahas ataupun dikaji oleh kalangan peneliti sosial karena tema cinta sangat dekat dengan bidang psikologi. Akan tetapi, tema cinta dapat dikaji melalui penelitian sosial seperti halnya meneliti tentang perilaku-perilaku manusia yang didasarkan atas nama cinta. Cinta menjadi suatu hal yang layak untuk dikaji kembali karena cinta merupakan unsur yang penting dalam kehidupan manusia, bahkan keberadaan manusia (Adam dan Hawa) di dunia adalah karena cinta. Fenomena cinta tersebut banyak pula yang diangkat kedalam berbagai karya sastra, khususnya ke dalam novel. Dengan demikian, hal ini menjadikan cinta sangat beragam sehingga sangat menarik untuk diteliti kembali.
Perkembangan dunia sastra sekarang ini mengalami kemajuan yang cukup pesat. Banyaknya sastrawan baru yang muncul merupakan bentuk kemajuan tersebut, baik para novelis, cerpenis, dan lain-lain. Begitu pula dengan perkembangan karya penulis perempuan yang saat ini dikatakan sudah sangat fenomenal dan dapat dikatakan sebagai sebuah perkembangan yang positif bagi pergerakan sastra feminis yang dapat membawa semangat baru dalam kesusastraan Indonesia. Novel-novel karya sastra yang bertema tentang cinta lebih banyak digeluti oleh para perempuan, baik penulis maupun pembacanya. Seperti halnya chicklit yang selalu diidentikkan sebagai bacaan para kaum perempuan.
Kehadiran Cintapuccino dalam sastra Indonesia dianggap sebagai suatu nafas segar bagi sastra wanita sehingga dengan adanya chicklit Cintapuccino dapat dijadikan sebagai bacaan wanita-wanita Indonesia. Saat ini chicklit masih dilihat sebagai hal yang masih diragukan untuk dikatakan sebagai sebuah karya sastra sehingga kehadirannya mendapatkan berbagai kritik dari banyak pihak. Namun demikian, saat ini semakin banyak para sastrawan wanita yang menekuni jenis sastra ini.
Asyhadi (dalam situs http://fordisastra.com/modules.php?name=nems&file=article&sid=515&mode=tread&order=0&thold=0) mengatakan bahwa Chicklit berasal dari kata chick yang merupakan bahasa slang Amerika untuk perempuan muda, dan lit kependekan dari literatur. Chicklit adalah sebentuk fiksi postfeminis yang mengangkat pengalaman-pengalaman perempuan umur 20-30 tahun menghadapi tema-tema cinta romantik. Genre ini mulai dikenal di Indonesia tahun 2003. Genre chicklit yang melekat pada karya Cintapuccino merupakan suatu ciri khusus bahwa karya Cintapuccino diperuntukkan bagi kaum perempuan. Ciri-ciri dari genre chicklit ini menurut Dewi (dalam situs http://pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0105/29/khazanah/lainnya02.htm ) adalah:
a. Kedekatan tema cerita, yang biasanya mengambil masalah yang dihadapi in our daily life, keseharian juga.
b. Gaya bertutur yang santai, ringan, lagi-lagi memberikan kedekatan juga dengan pembacanya, karena tidak menggunakan gaya bertutur yang formal sehingga seperti membaca cerita sendiri, atau cerita orang di sekitar kita.
c. Ditulis dengan penuh humor (kocak), sehingga entertaining.

Cintapuccino menjadi salah satu novel Best Seller di tahun 2005. Hal ini karena dalam novel tersebut mengangkat tentang tema yang dekat dengan keseharian masyarakat (tema cinta), penyampaian ceritanya menggunakan bahasa yang sangat sederhana atau merupakan bahasa yang dipakai sehari-hari dan alur cerita yang mudah untuk diikuti oleh pembaca, sehingga dengan mudah dapat diterima oleh banyak pihak. Pihak-pihak yang memuji karya ini adalah sebagai berikut (dalam novel Cintapuccino, 2005: iii-iv).
“Sarah Sechan (Artis) yang mengatakan bahwa “Cintapuccino membawa saya ber-flashback-ria ke zaman sekolah/kuliah dulu. Obsesi… oh obsesi… racun tapi bikin kangen!!!”, sementara itu Tika Panggabean (Project Pop) mengatakan bahwa: ”Cerita cinta yang simpel dengan bahasa yang simpel juga, tapi semua kerasa ‘pass’ karena nggak berlebihan”, Tora Sudiro (Aktor, pemeran Sakti dalam film Arisan) juga mengatakan bahwa: ”… menarik untuk dibaca… gue suka detail ama cara penulisannya, easy to follow, cerita-cerita ke masa lalu/flashback-nya nggak ngebingungin… yang pasti ‘bikin penasaran buat baca terus’…”, demikian juga halnya dengan Andien (Penyanyi) mengatakan bahwa: ”Emotion’s flowing down on me when I read this book”, Nirina Zubir (VJ) juga mengatakan bahwa: ”Buku ini bisa bikin ‘Na senyum, ketawa & juga menangis”, dan tidak ketinggalan pula Adhitya Mulya (Novelis) berkomentar bahwa: ”Dia menulis dengan detail yang saya tahu sekali, dia tidak pernah alami. Salut untuk itu karena debutnya sebagai penulis berarti diawali dengan riset yang proper. Namun yang paling saya enjoy dari dia, more than any other aspects from the book adalah cara seorang Icha bercerita. Lucu, hidup dan cewek banget!”.

Ada dua hal yang menonjol dalam cerita Cintapuccino, yakni kehidupan seorang perempuan modern dan obsesi cintanya. Semua terangkum dalam Cintapuccino. Keduanya merupakan hal utama yang ditampilkan dalam novel Cintapuccino. Novel Cintapuccino secara garis besar mengisahkan kehidupan cinta seorang perempuan modern yang menyertai setiap perjalanan kariernya, hingga suatu ketika dalam perjalanan kehidupan perempuan tersebut mengalami suatu struggle atau perjuangan yang keras dalam meniti karier dan kehidupan cintanya.
Tidak berbeda dengan novel-novel cinta lainnya, novel Cintapuccino juga mengangkat tema tentang obsesi cinta seorang perempuan. Namun yang menarik dari novel Cintapuccino adalah penggambaran tentang cinta yang diibaratkan seperti minuman kopi capuccino. Dalam kopi capuccino terdapat campuran krim dan espresso (ekstrak kopi yang lebih kuat) sehingga akan menghasilkan rasa yang nikmat dan unik. Dengan demikian, maka makna cinta yang terkandung di dalam novel meliputi pahit dan manisnya cinta, ada cemburu, rindu, sedih, dan kecewa sehingga cinta menjadi sebuah obsesi yang amat sangat yang ingin dicapai oleh tokoh dalam novel tersebut.
Icha Rahmanti sebagai penulis sangat pintar membuat kata-kata sehingga cerita dalam Cintapuccino ini mudah dimengerti dan dipahami pembaca. Icha sepertinya ingin berbagi pengalaman hidup dengan para pecinta novel Indonesia. Cerita dalam novel ini mencerminkan kehidupan nyata sehingga kisahnya sangat dekat dengan kehidupan keseharian. Hal ini karena penulis tidak dapat lepas dari pengaruh lingkungan dan pengalamannya. Kleden (2004: 8) mengatakan bahwa sebuah karya sastra tidak dapat mengelak dari kondisi masyarakat dan situasi kebudayaan tempat karya itu dihasilkan. Cintapuccino terlahir dalam kondisi masyarakat yang memandang bahwa perempuan harus segera menikah jika sudah mencapai pada usia tertentu. Situasi ini masih tetap bertahan di jaman yang sudah memasuki budaya konsumerisme. Dengan kata lain, pandangan masyarakat terhadap kehidupan perempuan yang belum menikah diusia tertentu masih tetap sama, yaitu memberi cap jelek atau pandangan yang negative. Selain itu, Cintapuccino juga mengungkapkan tentang tradisi atau budaya Ngariung (kumpul-kumpul) yang ada pada budaya Sunda, yang hingga kini masih tetap ada ditengah arus modernisasi.
Jika dibandingkan dengan novel lainnya, Cintapuccino mempunyai keunikan cerita cinta tersendiri. Sebut saja novel Indonesian Idle karya Okke Sepatumerah atau Oktarina Prasetyowati. Novel Indonesian Idle yang diterbitkan oleh Gagas Media tahun 2007 secara garis besar bercerita tentang kehidupan seorang perempuan muda bernama Diandra Adriani yang berusia 23 tahun dalam menghadapi berbagai permasalahan dalam pekerjaannya. Diandra sebagai seorang perempuan yang sudah berumur, sama sekali belum menemukan pekerjaan yang sesuai dengan hatinya sehingga mau tidak mau Ia selalu berpindah-pindah pekerjaan, mulai dari pekerjaan sebagai tim kreatif off air Club FM (sebuah radio otomotif di Bandung), kemudian menjadi guru menggambar privat, menjadi tim artistik di majalah Femme yang berskala nasional, hingga menjadi seorang penjaga warung internet (warnet). Novel Indonesian Idle lebih cenderung bercerita tentang kehidupan pekerjaan dari tokoh-tokohnya dari pada menampilkan unsur cinta didalamnya.
Novel lain yang serupa adalah novel Quarter Life Fear karya Primadona Angela yang diterbitkan Gramedia pada tahun 2005. Pada novel Quarter Life Fear ini bercerita tentang Belinda, perempuan berumur 25 tahun, dalam mendapatkan kembali cintanya (Jay) atau dengan kata lain cinta lama bersemi kembali. Novel ini menampilkan cerita cinta dan persahabatan. Berbeda dengan Cintapuccino yang lebih menampilkan obsesi cinta Rahmi, novel Quarter Life Fear cenderung menampilkan cerita cinta yang biasa tanpa adanya unsur obsesi cinta dari tokoh dalam novel.
Satu novel lagi yang dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan dalam penelitian ini yaitu novel Sihir Cinta yang ditulis Miranda yang di terbitkan Gagas Media. Satu naungan penerbit dengan Cintapuccino, Sihir Cinta bercerita tentang seorang perempuan bernama Rhein Prabasnaya yang mempunyai keistimewaan (dapat melihat masa depan). Karena keistimewaan itu Rhein sulit mendapatkan teman hingga akhirnya Ia menemukan sahabat yaitu Mita (Yanti dalam situs http://www.bukukita.com/bacareview.php?idbook=4091&revNo=127.ferina.20). Novel ini tidak menceritakan tentang mantra-mantra cinta, namun secara garis besar menceritakan tentang berbagai macam keajaiban yang terjadi karena cinta, dan pada intinya Miranda sebagai penulis dari novel Sihir Cinta ini hanya berisi satu rumusan, yaitu rumusan tentang kejujuran pada diri sendiri (Katalog Gagas Media: 2007).
Novel Cintapuccino juga telah diangkat ke dalam film layar lebar yang disutradarai oleh Rudi Soedjarwo dan diproduksi oleh Sinemart Pictures (dalam Cinemags, 2007: 114). Film Cintapuccino cukup mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Namun, cerita dalam film Cintapuccino agak sedikit berbeda dengan cerita yang ada pada novel Cintapuccino. Hal ini karena jika setiap detail cerita dalam novel tidak dapat ditampilkan sepenuhnya dalam film karena akan memakan waktu yang cukup lama sehingga ada bagian-bagian cerita dalam novel yang tidak ditayangkan. Dengan demikian, maka novel Cintapuccino lebih layak untuk diteliti karena lebih lengkap ceritanya.
Cintapuccino secara garis besar menceritakan tentang obsesi cinta seorang perempuan modern bernama Apraditha Arrahmi (Rahmi) atau Ami. Novel ini menghadirkan tokoh utama yaitu Rahmi, dan tokoh lain yang muncul seperti Alin, Raka, dan Nimo atau Dimas Geronimo. Novel ini mengambil latar atau setting di Jakarta dan Kota Kembang, Bandung. Nimo pada awalnya hanya seseorang yang ada dalam imajinasi Rahmi. Namun tidak terduga sosoknya memang benar-benar ada pada diri seorang Nimo, yaitu teman SMA Rahmi yang mempunyai wajah tampan, kaya, pintar, dan menjadi dambaan setiap anak gadis di sekolahnya, sehingga Nimo adalah obsesi cinta Rahmi sejak Ia duduk di bangku SMA. Namun obsesi tersebut baru tercapai ketika Rahmi telah menemukan Raka yang sangat mencintainya. Dengan kebaikan hati Raka, akhirnya Raka menyerahkan Rahmi kepada Nimo untuk mewujudkan obsesi Rahmi.

B. Perumusan Masalah
Sebuah karya sastra terlahir sebagai gambaran dari pengarang terhadap lingkungan masyarakatnya. Cinta adalah sebuah tema keseharian masyarakat yang diangkat sebagai topik utama dalam chicklit Cintapuccino. Khususnya bagi kehidupan perempuan muda di zaman modern saat ini telah menjadi suatu fenomena yang khas pada masyarakat kita. Segala persoalan yang ada pada kehidupan masyarakat sebagai satu kesatuan integral adalah buah dari cinta. Namun tidak jarang, dengan adanya cinta dapat timbul suatu konflik yang dapat menghadapkan seorang individu untuk memilih pada satu keputusan penting dalam kehidupannya.
Keputusan yang diambil seseorang merupakan jalan hidup yang harus dilaluinya. Cinta terkadang menjadi suatu landasan dalam pengambilan suatu keputusan yang akan mempengaruhi eksistensi hidup manusia di dalam masyarakatnya. Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan mengenai:
“Bagaimanakah makna cinta dalam kehidupan perempuan muda yang ada pada novel Cintapuccino karya Icha Rahmanti?”

C. Pembatasan Masalah
Penelitian ini mengupas tentang makna cinta, dimana cinta adalah sebuah obsesi yang mempengaruhi kehidupan individu dalam menjalani berbagai pilihan hidup di dalam masyarakatnya. Cinta merupakan satu pembahasan yang sangat umum di kalangan masyarakat. Banyak pula novel dan cerpen yang mengulas persoalan cinta dalam bidang sastra. Untuk itu, dalam penelitian ini yang diambil sebagai bahan penelitian adalah chicklit asli buatan Indonesia, yakni dibatasi pada karya Icha Rahmanti yang berjudul Cintapuccino.

D. Tujuan Penelitian
Cinta sebagai salah satu faktor yang dapat mendorong manusia untuk tetap eksis dalam kehidupan bermasyarakat masih menjadi suatu wacana besar dalam pergulatan karya sastra di berbagai negara. Cinta adalah karya besar yang diberikan Sang Pencipta kepada umat manusia. Pemahaman makna yang beragam tentang cinta di kalangan masyarakat telah menjadi suatu alasan untuk dilakukannya penelitian ini. Apalagi dengan semakin kompleksnya kehidupan para perempuan muda yang saat ini mulai dipandang sebagai gaya hidup yang harus dijalani oleh para perempuan di perkotaan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan dari perumusan masalah di atas, yaitu untuk menjelaskan dan mendeskripsikan cinta yang ada pada kehidupan perempuan modern dalam chicklit Cintapuccino karya Icha Rahmanti.

E. Manfaat Penelitian
a. Manfaat teoritis
Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah memberikan pemahaman wacana tentang cinta. Cinta yang secara umun merupakan kajian dari psikologi, ternyata dapat dikaji secara sosiologis, sehingga diharapkan dapat memberi sebuah wacana bagi perkembangan sosiologi, khususnya sosiologi sastra.
b. Manfaat praktis
Manfaat praktis dari penelitian ini adalah memberikan sumbangan pemahaman dan pandangan tentang cinta dalam hubungan sosial masyarakat, baik hubungan antar individu maupun hubungan individu dengan kelompok. Dengan demikian, keberadaan cinta diharapkan dapat menjadi suatu landasan bagi manusia dalam memutuskan berbagai pilihan hidup yang dijalaninya di dalam masyarakat.

BAB II
LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
Sosiologi sastra, dengan menggabungkan dua disiplin yang berbeda, sosiologi dan sastra, secara harfiah mesti ditopang oleh dua teori yang berbeda, yaitu teori-teori sosiologi dan teori-teori sastra (Ratna, 2003: 18). Dengan demikian, dalam meneliti karya sastra tidak hanya menggunakan satu teori saja, tetapi menggunakan teori-teori yang berkaitan dengan sastra dan teori-teori yang terkait dengan sosiologi.
Sosiologi sastra barasal dari kata sosiologi dan sastra. Sosiologi berasal dari kata socius berarti masyarakat dan logos berarti ilmu. Jadi, sosiologi berarti ilmu mengenai asal-usul dan pertumbuhan (evolusi) masyarakat, ilmu pengetahuan yang mempelajari keseluruhan hubungan antarmanusia dalam masyarakat, sifatnya umum, rasional, dan empiris. Sastra berasal dari kata sas (Sansekerta) yang berarti mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk dan instruksi, sedangkan tra berarti alat. Jadi, sastra berarti kumpulan alat untuk mengajar, buku petunjuk atau buku pengajaran yang baik (Ratna, 2003: 1). Dari Ian Watt, Sapardi (dalam Faruk, 1994: 4-5) menemukan tiga macam pendekatan yang berbeda, yakni:
1. Pertama, konteks sosial pengarang. Hal ini berhubungan dengan posisi sosial sastrawan dalam masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca. Termasuk pula faktor-faktor sosial yang bisa mempengaruhi pengarang sebagai perorangan disamping mempengaruhi isi karya sastranya. Yang terutama harus diteliti dalam pendekatan ini adalah bagaimana pengarang mendapatkan mata pencahariannya, sejauh mana pengarang menganggap pekerjaannya sebagai suatu profesi, dan masyarakat apa yang dituju oleh pengarang.
2. Kedua, sastra sebagai cermin masyarakat. Yang terutama mendapat perhatian adalah sejauh mana sastra mencerminkan masyarakat pada waktu karya sastra itu ditulis, sejauh mana sifat pribadi pengarang mempengaruhi gambaran masyarakat yang ingin disampaikannya, dan sejauh mana genre sastra yang digunakan pengarang dapat dianggap mewakili seluruh masyarakat.
3. Ketiga, fungsi sosial sastra. Dalam hubungan itu ada tiga hal yang menjadi perhatian, yaitu (a) sejauh mana sastra dapat berfungsi sebagai perombak masyarakat, (b) sejauh mana sastra hanya berfungsi sebagai penghibur saja, dan sejauh mana terjadi sintesis antara kemungkinan (a) dengan (b) di atas.

Berdasarkan pendekatan-pendekatan di atas, maka Cintapuccino lahir sebagai sebuah karya yang mencerminkan masyarakat. Tema yang disajikan dalam Cintapuccino adalah tema cinta dan kehidupan perempuan muda yang merupakan tema keseharian yang ada dalam masyarakat. Tema yang disajikan dikemas dengan bahasa sehari-hari sehingga pesan yang ditulis oleh pengarang dalam chicklit Cintapuccino sangat memungkinkan untuk dapat sampai kepada pikiran pembaca.
Sebuah karya sastra akan dapat diterima oleh pembacanya apabila karya tersebut dapat dipahami dan dimengerti. Untuk mendapatkan pemahaman atau pengertian dari sebuah karya sastra tersebut maka kita juga harus mengetahui makna yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, terlebih dahulu kita harus memahami arti dari makna itu sendiri. Menurut Rahardjo (2007: 57) mengatakan bahwa makna diartikan sebagai objek, arti, pikiran, gagasan, konsep atau maksud yang diberikan penulis, pembaca atau pembicara terhadap suatu bentuk pembahasan baik berupa kata, kalimat, maupun wacana (teks). Dengan demikian, maka makna merupakan sesuatu yang telah ditangkap atau dimengarti dari suatu hal. Sebagai contoh, apabila ada dua orang sedang berbicara atau berinteraksi, maka dalam proses tersebut agar dapat berjalan dengan baik, diantara keduanya harus mampu menangkap makna yang disampaikan satu sama lain. Begitu pula dengan sebuah karya sastra. Penulis karya sastra ingin menyampaikan makna dari karyanya kepada pembaca, sedangkan pembaca melakukan proses membaca untuk menemukan makna yang ada dalam karya tersebut. Jika pembaca dapat menangkap makna yang ada dalam sebuah karya maka pembaca akan terus menikmati karya tersebut. Lebih lanjut Rahardjo (2007: 58-59) menjelaskan sebagai berikut.
Berdasarkan jenisnya, menurut Brodbeck (dalam Fisher, 1986: 344-345) paling tidak terdapat tiga jenis makna: (1) makna referansial, yakni makna suatu istilah berupa objek, pikiran, ide, atau konsep yang ditunjukkan oleh istilah itu sendiri, (2) arti istilah itu sendiri, yakni lambang atau istilah itu “berarti” sejauh ia berhubungan dengan istilah dan konsep yang lain, dan (3) makna intensional, arti suatu istilah, lambang atau teks tergantung pada produsernya sendiri. Dalam perspektif hermeneutika, maka makna demikian tidak lain adalah hermeneutika intensionalisme.
Menurut Gadamer, makna karya sastra tidak pernah terkuras oleh maksud pengarangnya; selagi karya itu berpindah antar konteks budaya atau historis, makna-makna baru dapat dikumpulkan darinya, makna yang mungkin tidak pernah diantisipasi oleh pangarang atau pembaca saat karya itu ditulis (dalam Eagleton, 2006: 100). Berdasarkan pendapat Gadamer, maka makna dari sebuah karya sastra tidak dapat dilihat secara sepihak. Dengan kata lain, makna sebuah karya sastra mempunyai sisi yang jamak atau tidak tunggal. Kita dapat melihat makna dari sebuah karya sastra dari sudut pandang penulis, pembaca, pengkritik karya sastra, maupun dari sudut pandang struktur karya sastra itu sendiri.
Kehadiran Cintapuccino sebagai sebuah karya yang lahir dengan mencerminkan kehidupan para perempuan muda saat ini yang mempunyai citra perempuan modern, yakni perempuan digambarkan sebagai sosok yang mandiri, bekerja serta mampu mengambil berbagai keputusan untuk dirinya sendiri. Hal ini diperkuat oleh pendapat bahwa wanita modern terlalu berat kerjanya, terlalu banyak bebannya, dan merasa tidak didukung dan kecapaian dengan alasan yang baik (dalam http://forum.tarbiyahdaily.com/viewtopic.php?f=51&t=68). Sedangkan dari Jessica dikatakan bahwa revolusi yang telah dijalani oleh banyak wanita Indonesia hingga dapat menjadi wanita modern adalah ukuran Bra untuk usia 14-17 tahun rata-rata 36-38 (era 2000an) padahal dulu ukurannya hanya 32-34, memamerkan tubuh dengan bangga dengan memakai pakaian yang terbuka, lebih cepat mengalami menstruasi (usia 9 tahun), seks merupakan hal yang sudah biasa atau wajar, dan merokok dianggap sebagai gaya hidup masa kini (dalam http://www.duniawanita.com/index.php?option=com_content&teks=view&id=32&Itemid=7).
Pembahasan tentang cinta sebagai suatu fakta kemanusiaan sangat terkait erat dengan kajian psikologi. Hal ini karena cinta hanya dirasakan melalui hubungan emosional manusia. Namun demikian, dari adanya hubungan emosional yang terjadi pada individu maka akan mempengaruhi hubungan sosial dan interaksi sosial antara individu yang satu dengan individu yang lain dalam masyarakat. Oleh karena itu, ada hal yang dapat digunakan untuk melihat perbedaan antara fakta psikologi dengan fakta sosial. Fakta psikologi adalah fenomena yang dibawa oleh manusia sejak lahir (Inherited) sehingga bukan merupakan hasil pergaulan hidup masyarakat (Ritzer, 2002: 16). Fenomena cinta yang terdapat dalam Cintapuccino adalah cinta yang muncul diantara hubungan manusia, yang awal kejadiannya melalui proses interaksi hubungan antara dua manusia yang cukup intens. Menurut Ritzer (2002: 53) mengatakan bahwa:
“Berbeda dari fakta sosial yang telah dibahas, menurut teori interaksionisme simbolik ini fakta sosial bukanlah merupakan barang sesuatu yang mengendalikan dan memaksakan tindakan manusia. Fakta sosial yang memang penting dalam kehidupan masyarakat, ditempatkannya di dalam kerangka simbol-simbol interaksi manusia”.

Cinta ada di dalam diri setiap individu. Cinta merupakan sesuatu yang nyata. Karya sastra yang banyak muncul tidak lain adalah merupakan suatu gambaran atas berbagai peristiwa yang terjadi di dalam masyarakat. Cinta sebagai sesuatu hal yang ada di dalam diri setiap individu merupakan sesuatu yang nyata dalam kehidupan sosial. Setiap peristiwa yang terjadi di dalam masyarakat merupakan represantasi dari cinta. Pola pergaulan antara individu yang satu dengan individu yang lain merupakan bagian dari cinta. Dengan demikian, maka kehidupan individu tidak dapat lepas dari cinta. Oleh karena itu, manusia melestarikan cinta dengan membuat berbagai karya diantaranya adalah karya sastra. Novel sebagai bagian dari karya sastra merupakan media dalam melestarikan cinta. Setiap cerita yang dihadirkan sedikit banyak mengandung unsur cinta.
Unsur-unsur cinta yang terdapat dalam karya sastra merupakan simbol-simbol yang sarat dengan makna. Untuk itu dalam panalitian ini akan menggunakan teori interaksionisme simbolik. Dalam sebuah penelitian, teori mempunyai fungsi yang cukup penting dalam menjelaskan fenomena yang diteliti. Moleong (2005: 58) mengatakan sebagai berikut.
“Glaser dan Strauss (1967: 3) yang, walaupun mengkhususkan fungsi teorinya pada sosiologi, berlaku juga pada disiplin lainnya, menyatakan sepertti berikut. Tugas yang saling berkaitan dari teori dalam sosiologi adalah: (1) memberikan kesempatan untuk meramalkan dan menerangkan perilaku, (2) bermanfaat dalam menemukan teori sosiologi, (3) digunakan dalam aplikasi praktis-peramalan dan penjelasannya harus memberikan pengertian kepada para praktisi dan beberapa pengawasan terhadap berbagai situasi, (4) memberikan perspektif bagi perilaku, (5) membimbing serta menyajikan gaya bagi penelitian dalam beberapa bidang perilaku”.

Kehidupan manusia dipenuhi dengan berbagai simbol yang bermakna. Teori interaksionisme simbolik adalah teori yang mempelajari interaksi manusia guna memperoleh makna atau pemahaman dari proses interaksi tersebut. Ritzer (2002: 52) mengatakan bahwa:
“Menurut Blumer istilah interaksionisme simbolik menunjuk pada sifat khas dari interaksi antar manusia. Kekhasannya adalah bahwa manusia saling menerjemahkan dan saling mendefinisikan tindakannya. Bukan hanya sekedar reaksi belaka dari tindakan seseorang terhadap orang lain. Tanggapan seseorang tidak dibuat secara langsung terhadap tindakan orang lain, tetapi didasarkan pada “makna” yang diberikan terhadap tindakan orang lain itu. Interaksi antar individu, diantarai oleh penggunaan simbol-simbol, interpretasi atau dengan saling berusaha untuk saling memahami maksud dari tindakan masing-masing”.

Untuk memahami makna cinta yang terdapat dalam novel Cintapuccino, maka sangatlah tepat bila menggunakan teori ini. Para tokoh interaksionisme simbolik menyebutkan prinsip dasar teori ini meliputi (Ritzer, 2004: 289) sebagai berikut.
a. Tak seperti binatang, manusia dibekali kemampuan untuk berfikir.
b. Kemampuan berfikir dibentuk oleh interaksi sosial.
c. Dalam interaksi sosial manusia mempelajari arti dan simbol yang memungkinkan mereka menggunakan kemampuan berfikir mereka yang khusus itu.
d. Makna dan simbol memungkinkan manusia melanjutkan tindakan khusus dan berinteraksi.
e. Manusia mampu merubah arti dan simbol yang mereka gunakan dalam tindakan dan interaksi berdasarkan penafsiran mereka terhadap situasi.
f. Manusia mampu membuat kebijakan modifikasi dan perubahan, sebagian karena kemampuan mereka berinteraksi dengan diri mereka sendiri, yang memungkinkan mereka menguji serangkaian peluang tindakan, menilai keuntungan dan kerugian relatif mereka, dan kemudian memilih satu diantara serangkaian peluang tindakan itu.
g. Pola tindakan dan interaksi yang saling berkaitan akan membentuk kelompok dan masyarakat.

Symbol-simbol yang muncul dalam novel Cintapuccino banyak sekali, antara lain yaitu:
a. Keputusan Rahmi untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Keamanan dengan alasan ingin mengenal Nimo lebih dekat (Cintapuccino, hal. 23).
b. Rahmi mencari tahu segala hal tentang Nimo dari orang-orang terdekatnya, contahnya teman-temannya (Cintapuccino, hal. 29).
c. Cara Rahmi dan Raka memanggil satu sama lain dengan sebutan “Sayang” atau “Darling” (Cintapuccino, hal. 7).
d. Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threat) yang dilakukan Rahmi pada Nimo (Cintapuccino, hal. 43-44).
e. Penulisan semua peristiwa yang dialami Rahmi dengan Nimo ke dalam buku diary (Cintapuccino, hal. 45).
f. Rahmi mengambil kuliah dijurusan yang sama dengan Nimo (Cintapuccino, hal. 36).
g. Keputusan Rahmi untuk menikah dengan Nimo (Cintapuccino, hal. 246).
h. Pertemuan Rahmi dengan Raka di Rig milik perusahaan D’estain Compagnie (Cintapuccino, hal. 121).
i. Perbincangan Rahmi dengan Nimo di Malia (Cintapuccino, hal. 121), dan simbol-simbol lainnya.
B. Tinjauan Pustaka
a. Pengertian Cinta
Berbagai pengertian yang dipahami masyarakat mengenai cinta dapat kita lihat dari kehidupan sehari-hari. Cinta dapat bermakna positif dan dapat juga bermakna negatif. Cinta dapat membuat seorang individu menjadi terasing dari kehidupannya, tetapi juga dapat membawa individu untuk dapat diakui dalam lingkungannya. Dengan demikian maka cinta dapat berarti kepedulian, perhatian dan kasih sayang. Hatfield dan Bersheid (dalam buku Dayakisni dan Salis, 2004: 220) mengemukakan bahwa ada dua jenis cinta yaitu passionate love yang mencakup perasaan seksual dan emosi yang intens. Companionate love yang mencakup kehangatan, kepercayaan, dan toleransi afektif kepada orang lain yang kehidupannya telah terjalin satu sama lain dengan mendalam.
Cinta (dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988) berarti suka sekali, sayang benar, atau kasih sekali/terpikat antara laki-laki dan perempuan. Cinta merupakan suatu landasan bagi individu untuk membentuk suatu masyarakat keluarga. Artinya, pernikahan yang terjadi pada seorang individu dalam membentuk suatu keluarga biasanya dilandasi dengan faktor cinta. Prasetya dkk. (1998: 53) mengatakan bahwa bila percintaan pria-wanita diakhiri dengan perkawinan maka di dalam kehidupan berumah tangga, keluarga ini akan menemukan kebahagiaan mereka.
Prasetya dkk. (1998: 65) juga mengatakan bahwa dalam esay “On Love” ada pengertian bahwa cinta adalah rasa persatuan tanpa syarat. Itu berarti dalam rasa belas kasihan tidak mengandung unsur pamrih. Dengan demikian, maka baik cinta antara pria-wanita, cinta kepada alam, maupun cinta pada Ilahi tidaklah memakai kata pamrih, apapun yang dilakukan dengan cinta adalah sesuatu yang ikhlas dari hati. Tidaklah salah bila ada orang-orang yang mengartikan bahwa cinta itu memberi tanpa mengharapkan imbalan dari orang yang dicintai.

Al-Jauziyyah (1417 H: 4-34) mengemukakan istilah-istilah cinta dan maknanya yang meliputi sebagai berikut.
1. Kasih sayang (Al-Mahabbah), adalah luapan hati dan gejolaknya saat dirundung keinginan untuk bertemu dengan sang kekasih.
2. Cinta, hubungan, segumpal darah (Al-Alaqah), hati ingin selalu berhubungan dengan orang yang dicintai.
3. Hasrat, nafsu, keinginan (Al-Hawa), kecenderungan jiwa kepada sesuatu, cinta menjadi hasrat dan nafsu orang yang memilikinya.
4. Kerinduan (Ash-Shabwah).
5. Kerinduan yang halus (Ash-Ashababah), kerinduan yang mendalam.
6. Cinta yang mendalam (Asy-Syaghaf).
7. Cinta (Al-Miqatu).
8. Cinta yang disertai rasa sedih (Al-Wajdu).
9. Cinta yang mendalam (Al-Kalaf).
10. Penghambaan (At-Tatayyum).
11. Cinta yang meluap-luap (Al-‘Isyqu), cinta yang berlebihan.
12. Cinta yang membara (Al-Jawa).
13. Sakit karena cinta (Ad-Danafu).
14. Cinta yang berakhir dengan kegelisahan atau kesedihan (Asy-Syajwu).
15. Rindu (Asy-Syauqu), pengelanaan hati untuk bersua orang yang dicintai.
16. Cinta yang mengecoh (Al-Khilabah), cinta bisa mengecoh orang yang mabuk cinta.
17. Yang gelisah (Al-Balabil), cinta yang gundah, rindu yang gelisah.
18. Cinta yang memuncak (At-Tabarih), cinta membara.
19. Cinta yang berakhir dengan rasa sesal dan rasa sedih (As-Sadam).
20. Bodoh, lalai dan mabuk (Al-Ghamarat), hati menjadi bodoh, mabuk dan lalai karena cinta.
21. Takut dan gemetar (Al-Wahl), ketika melihat orang yang dicintai maka rona wajah akan berubah dan gemetar.
22. Membutuhkan (Asy-Syajanu), membutuhkan orang yang mencintai dalam keadaan apapun.
23. Hangus, terbakar (Al-La’iju), hati yang terbakar api cinta.
24. Merana karena sedih (Al-Ikti’ab), seseorang merana karena cinta dan karena orang yang dicintai menghilang, sehingga diantara keduanya muncul keadaan yang memilukan.
25. Derita cinta (Al-Washabu).
26. Kesedihan (Al-Hazanu), merupakan keadaan yang terjadi pada diri orang yang mencintai.
27. Kesedihan yang terpendam dalam hati (Al-Kamadu).
28. Terbakar api (Al-Ladz’u).
29. Gejala cinta (Al-Huraqu).
30. Sulit tidur (As-Suhdu).
31. Tidak dapat Tidur ( Al-Araqu).
32. Sedih (Al-Lahfu), sedih dan menyesal pada peristiwa yang lalu.
33. Kerinduan, belas kasih (Al-Hanin), kerinduan hati dan kasih sayang, laki-laki yang mencintai wanita akan selalu mengasihinya di mana pun ia berada.
34. Tunduk, menyerah (Al-Istikanah), tunduk dan menyerah pada cinta.
35. Derita cinta (At-Tabbalah), menderita karena cinta.
36. Terbakar kerinduan (Al-Lau’ah), hati yang terbakar karena kerinduan.
37. Cobaan, ujian (Al-Futun), artinya cinta merupakan tempat timbulnya cobaan. Tidak ada cobaan yang muncul kecuali karena ada cinta.
38. Gila, tidak waras (Al-Junun), cinta yang menggelora dan berlebih-lebihan bisa menutupi akal sehingga orang yang dimabuk cinta tidak bisa berpikir secara waras.
39. Setengah sinting, setengah gila (Al-Lamamu), orang yang dicintai bisa membuat orang yang mencintai menjadi setengah gila.
40. Binasa (Al-Khablu), merupakan akibat dan pengaruh cinta, yakni kerusakan.
41. Teguh, tegar (Ar-Rasis), keteguhan cinta dan keabadiannya.
42. Penyakit yang merasuk (Ad-Da’ul-Mukhamir), dinamakan “merasuk” karena cinta membuat hati dan ruh saling bercampur dan saling merasuk.
43. Kasih yang tulus (Al-Wuddu), kasih sayang yang tulus dan lembut.
44. Satu cinta (Al-Khullah), satu cinta untuk orang yang dicintai.
45. Sahabat (Al-Khilmu), persahabat dan kasih sayang.
46. Cinta yang dibutuhkan (Al-Gharam), orang yang membutuhkan cinta (kelembutan cinta).
47. Sangat dahaga (Al-Huyam), seperti orang yang gila karena cinta.
48. Gila, linglung (At-Tadliyah), dibingungkan dan linglung oleh cinta.
49. Tidak waras dan bingung (Al-Walahu), ketidakwarasan dan kebingungan karena cinta yang meluap-luap.
50. Penghambaan (At-Ta’abbud), ketundukan pada cinta, atau diperhamba oleh cinta.

Dari sekian banyak makna cinta di atas, Hendrick dan Hendrick (dalam Sarwono, 1999: 212) mengemukakan jenis-jenis cinta yang lain, yaitu:
a. Eros yaitu passionate love atau cinta membara. Cirinya adalah saling tertarik begitu saling berjumpa.
b. Storge yaitu companionate love atau cinta karib. Cirinya adalah persahabatan yang mendalam, tidak emosional dan tidak misterius.
c. Ludus yaitu cinta main-main. Cirinya adalah mempunyai dua pacar dan mereka tidak boleh saling berjumpa.
d. Mania yaitu cinta posesif (menuntut). Cirinya adalah tidak bisa tenang kalau saya pikir pacar saya dengan orang lain.
e. Pragma yaitu cinta logika. Cirinya adalah yang terbaik adalah mencintai seseorang yang berlatar belakang sama.
f. Agape yaitu cinta yang tidak mementingkan diri sendiri. Cirinya adalah lebih baik saya yang menderita daripada dia.
Berbagai istilah dan makna yang digunakan oleh masyarakat dalam memahami cinta memang sangat beragam. Cinta tidak bisa diartikan dengan makna tunggal. Baik atau buruk suatu makna cinta dipengaruhi pula oleh gejala yang diakibatkan oleh cinta. Dengan demikian, maka berbagai pengaruh dan akibat yang ditimbulkan oleh cinta yang di alami oleh indivudu-individu telah memberikan pengaruh pada indivudu-individu itu sendiri dalam memahami dan menjelaskan makna cinta, sehingga cinta mempunyai banyak sekali makna dan istilah.
b. Novel sebagai Karya Sastra
Dunia sastra saat ini telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal ini tidak lepas dari perjuangan dan usaha para sastrawan yang cukup panjang. Seperti halnya perkembangan novel di Indonesia yang sangat pesat. Peran penerbit juga tidak kalah penting dalam perkembangan novel di Indonesia karena dengan semakin banyak penerbit maka banyak sastrawan yang telah menciptakan karya sastra yang beragam.
Keberadaan novel yang dianggap sebagai karya yang lebih realistik mempunyai fungsi tersendiri bagi masyarakat. Fungsi novel ini terkait dengan pemahaman masyarakat terhadap kehidupan yang dijalaninya. Culler (1975) (dalam Faruk, 1994: 47) mengatakan bahwa novel berfungsi sebagai model yang dengannya masyarakat memahami dirinya sendiri. Faruk lebih lanjut menjelaskan bahwa:
“Novel merupakan wacana yang di dalam dan lewatnya masyarakat mengartikulasikan dunia. Di dalam novel kata-kata disusun sedemikian rupa agar melalui aktivitas pembacaan akan muncul suatu model mengenai suatu dunia sosial, model-model personalitas individual, model hubungan antara individu dengan masyarakat, dan lebih penting lagi model signifikansi dari aspek-aspek dunia tersebut”.

Novel sebagai sebuah karya sastra mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan dengan karya sastra yang lain. Oleh karena itu novel merupakan sebuah gambaran yang realistis dari masyarakat. Objek karya sastra adalah realitas (Kuntowijoyo, 1999: 127). Novel menjadi bentuk yang nyata dari sebuah karya yang sangat dekat dalam mencerminkan realitas yang ada di dalam masyarakat. Adapun novel itu digambarkannya sebagai genre sastra yang cenderung realistik. Dr. Jhonson (dalam Faruk, 1994 : 45-46) menyimpulkan bahwa novel merepresentasikan suatu gambaran yang jauh lebih realistik mengenai kehidupan sosial.
Sebagai karya sastra yang cenderung realistik, novel tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Vladimir Jdanov (1956) (dalam Escarpit, 2005: 8) mengatakan bahwa sastra harus dipandang dalam hubungan yang tak terpisahkan dengan kehidupan masyarakat, latar belakang sejarah dan sosial yang mempengaruhi pengarang. Dengan kata lain, novel sebagai suatu hasil karya sastra merupakan pencerminan dari kehidupan masyarakat sehingga novel bisa dianggap lebih peka dalam mengungkapkan berbagai gejala sosial dan unsur-unsur sosial. Adanya anggapan tersebut, maka novel menjadi relevan untuk dapat dianalisis secara sosiologis. Menurut Ratna (2006: 335-336) mengatakan bahwa:
“Diantara genre utama karya sastra, yaitu puisi, prosa, dan drama, genre prosalah, khususnya novel, yang dianggap paling dominan dalam menampilkan unsur-unsur sosial. Alasan yang dapat dikemukakan, diantaranya: a) novel menampilkan unsur-unsur cerita yang paling lengkap, memiliki media yang paling luas, menyajikan masalah-masalah kemasyarakatan yang juga paling luas, b) bahasa novel cenderung merupakan bahasa sehari-hari, bahasa yang paling umum digunakan dalam masyarakat. Oleh karena itulah, dikatakan bahwa novel merupakan genre yang paling sosiologis dan responsif sebab sangat peka terhadap fluktuasi sosiohistoris”.

Novel bukan sekedar kumpulan tulisan yang menarik untuk dibaca. Akan tetapi di dalam sebuah novel mengandung unsur-unsur yang saling berkaitan sehingga novel tersebut mempunyai makna. Ada tiga unsur yang terdapat dalam sebuah novel. Unsur-unsur tersebut saling berkaitan satu sama lain. Sugihastuti dan Suharto (2005: 45) mengatakan bahwa ketiga unsur tersebut merupakan unsur yang terpenting dari novel, yaitu meliputi tokoh utama, konflik utama, dan tema utama.
C. Penelitian Sebelumnya
a. Makkiyah Farizqi (F1C002059)
Penelitian yang sama juga pernah dilakukan oleh Makkiyah Farizqi (F1C002059) di tahun 2006 dari Jurusan Komunikasi FISIP Unsoed. Penelitian yang bertema tentang Percampuran Bahasa dalam Chicklit (Sebuah Kajian Identitas Sosial Perempuan Indonesia Modern) ini dilatarbelakangi oleh semakin maraknya percampuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam pergaulan sehari-hari. Bahan penelitian yang diambil adalah chicklit Cintapuccino. Sedangkan metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis wacana kritis.
Penelitian tersebut bermaksud mengungkap bagaimana bahasa sebagai medium komunikasi dalam chicklit dapat merepresentasikan identitas sosial perempuan Indonesia. Untuk mengungkapkan hal tersebut peneliti menggunakan alat analisis berupa analisis wacana kritis yang dikemukakan Teun A. Van Dijk atau sering disebut kognisi sosial. Melalui analisis data yang seperti ini maka peneliti tidak hanya mengkritisi teks tapi berusaha mengetahui dan mengaitkan proses yang melatar belakangi terbentuknya teks tersebut.
Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa model bahasa campuran (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) yang terdapat di dalam chicklit telah merepresantasikan identitas sosial perempuan Indonesia modern. Hal ini dapat dilihat dari gaya bahasa campuran yang digunakan oleh para tokoh dalam chicklit tersebut. Selain itu juga dapat diketahui melalui pola kehidupan serta pergaulan antar tokoh yang ada di dalam chicklit tersebut. Pola kehidupan perempuan muda perkotaan yang digambarkan dalam chicklit seperti kemandirian seorang perempuan, gaya hidup yang ditampilkan, serta cara bertutur diantara tokoh di dalam chicklit tersebut.
Penelitian kali ini akan mengetengahkan tema yang berbeda dengan penelitian sebelumnya. Tema yang diambil adalah tema cinta yang terdapat di dalam novel Cintapuccino. Dengan latar belakang bahwa tema cinta merupakan tema yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Melalui alat analisis Hermeneutika, penelitian ini mencoba untuk menemukan makna cinta yang terdapat di dalam novel Cintapuccino.
b. Heri Dwi Hartanto (F1A095080)
Penelitian yang mengangkat tema tentang cinta juga pernah dilakukan oleh Heri Dwi Hartanto (F1A095080) di tahun 2003 dari Jurusan Sosiologi FISIP Unsoed, yaitu berjudul Aku adalah Sang Awan yang Merindukan Awan Lain untuk Membaur dengan Ikhlas dan Rela Mengarungi Indahnya Dunia (Analisis Pemikiran Kahlil Gibran tentang Cinta). Penelitian yang dilakukan oleh Heri ini dilatar belakangi oleh fenomenalnya karya-karya Kahlil Gibran di masyarakat. Heri menganggap cinta sebagai hasil kontruksi dan interaksi masyarakat, bukan semata-mata hasil perasaan seseorang (subjektif) dan bisa dikaji secara sosiologis. Materi yang digunakan Heri dalam penelitian ini adalah karya-karya Kahlil Gibran berupa sajak atau puisi yang meliputi Petuah-Petuah Spiritual, Surat-Surat Cinta Kahlil Gibran dan Mary Haskell, Pasir dan Buih, Jiwa-Jiwa Pemberontak, Air Mata dan Senyuman, Sayap-Sayap Patah, serta Sang Pengelana dan Suara Sang guru.
Penelitian tersebut bermaksud untuk mengungkapkan bagaimana Kahlil Gibran menjabarkan cinta di dalam karya-karyanya dan bagaimana Kahlil Gibran menjelaskan cinta humanisnya di dalam karyanya. Untuk itu, penelitian tersebut menggunakan penelitian pustaka dengan menggunakan interpretasi data teks, sedangkan metode analisanya menggunakan hermeneutik Gadamer. Melalui hermeneutik ini, penelitian Heri bertujuan untuk menginterpretasikan cinta dalam karya-karya Kahlil Gibran. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa cinta yang terdapat dalam karya-karya Kahlil Gibran menunjukkan bahwa Gibran melalui cinta humanisnya telah mengungkapkan tentang cinta dalam kehidupan manusia. Tidak hanya itu Gibran mengungkapkan pula bahwa cinta meliputi hubungan antara manusia dengan Tuhannya, cinta antara manusia dengan alam, cinta antara manusia dengan manusia, dan cinta antara Tuhan dengan alam.
Berdasarkan penelitian terdahulu, penelitian kali ini bermaksud untuk mencari makna yang berbeda tentang cinta dengan menggunakan materi penelitian yang berbeda. Jika Heri menggunakan sajak atau puisi Kahlil Gibran sebagai materi penelitian, maka penelitian ini akan menggunakan novel Cintapuccino karya Icha Rahmanti sebagai materi penelitian. Sajak/puisi dan novel, keduanya merupakan karya sastra. Namun, keduanya mempunyai unsur intrinsik yang berbeda satu sama lain. Dengan menggunakan metode dan analisis yang sama diharapkan akan menghasilkan makna cinta yang lebih beragam sehingga dapat memperkaya pemahaman terhadap cinta itu sendiri.
















BAB III
METODE PENELITIAN DAN ANALISIS DATA

A. Bahan Penelitian
Bahan penelitian ini adalah novel Cintapuccino karya Icha Ramanti yang diterbitkan oleh Gagas Media tahun 2004. Novel dijadikan sebagai bahan utama dalam penelitian ini karena di dalam novel ini memuat gambaran tentang kehidupan cinta perempuan muda.

B. Wujud Penelitian
Penelitian ini berwujud penelitian kepustakaan atau studi pustaka karena dalam penelitian ini menggunakan novel Cintapuccino sebagai bahan penelitian. Penelitian perpustakaan bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan macam-macam material yang terdapat di ruang perpustakaan, seperti buku, majalah, naskah, kisah sejarah, dan dokumen-dokumen lain (Kartono, 1990: 33). Cintapuccino sebagai sebuah karya sastra tidak dapat lepas dari pengaruh kehidupan masyarakat saat pembuatan novel ini berlangsung. Kartodirdjo (dalam Koentjaraningrat, 1991: 58) mengatakan bahwa karya kesusastraan adalah ekspresi dari fantasi imajinasi, serta kemampuan stilistis dari seorang pengarang, tapi dalam menulis karyanya ia secara tidak sengaja mengungkapkan data yang menyangkut keadaan sosial dari masanya atau dari periode waktu cerita itu terjadi, sehingga hasil kesusastraan sangat cocok untuk dipergunakan sebagai bahan dokumen guna merekomendasikan kehidupan sosial dari masa tertentu.

C. Sumber Data
a. Data Primer
Novel Cintapuccino karya Icha Rahmanti digunakan sebagai data primer dalam penelitian ini karena novel ini mempunyai kelebihan dibandingkan dengan novel-novel lainnya. Kelebihannya karena Cintapucino merupakan Chicklit pertama yang dibuat oleh orang Indonesia sehingga novel yang diterbitkan oleh penerbit Gagas Media ini adalah Chicklit buatan Indonesia asli. Dalam Cintapuccino lebih dominan dalam menceritakan tentang kehidupan cinta perempuan muda yang sedang mengalami “A Quarter Life Crisis” yang juga banyak dialami oleh perempuan-perempuan muda di masyarakat kita.
b. Data Sekunder
Pustaka lain seperti artikel (internet) dan bahan literatur lain yang mempunyai kaitan dengan topik penelitian dijadikan data sekunder dalam penelitian ini.




D. Analisis Data Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian terhadap teks karya sastra, yaitu novel Cintapuccino. Menurut Ratna (2006: 45) karya sastra perlu ditafsirkan sebab di satu pihak karya sastra terdiri atas bahasa, di pihak lain, di dalam bahasa sangat banyak makna yang tersembunyi, atau dengan sengaja disembunyikan. Untuk memahami makna yang terdapat di dalam novel Cintapuccino ini, peneliti menggunakan metode hermeneutika sebagai alat analisis.
Secara etimologis hermeneutika berasal dari kata hermeneuein, bahasa Yunani, yang berarti menafsirkan atau menginterpretasikan (Ratna, 2006: 45). Pada awal perkembangannya, hermeneutika digunakan untuk mengkaji wacana-wacana teologis. Ratna (2006: 46) mengatakan bahwa metode hermeneutika tidak mencari makna yang benar, melainkan makna yang paling optimal. Ratna mengatakan bahwa hermeneutika mempunyai peran yang penting dalam kajian sastra. Oleh karena itu, hermeneutika dianggap sebagai metode yang cocok dalam mengkaji karya sastra.
Hermeneutika merupakan upaya untuk memahami teks. Suatu teks terdiri dari berbagai bagian yang merupakan satu keseluruhan. Antara bagian yang satu dengan yang lain mempunyai relasi dalam upaya memahami teks. Relasi ini biasa disebut sebagai lingkaran hermeneutik atau hermeneutical circle. Pari (2001: 5) mengatakan bahwa:
“Suatu teks terdiri dari bagian-bagian yang membentuk satu kesatuan yang utuh sebagai suatu keseluruhan. Suatu teks terdiri dari gabungan kata-kata yang membentuk kalimat, dan gabungan kalimat-kalimat tersebut membentuk alinea, dan gabungan alinea-alinea membentuk teks yang utuh. Jadi teks merupakan suatu totalitas keseluruhan”.

Hermeneutika berarti menafsirkan atau menginterpretasikan isi teks, sehingga antara peneliti dengan teks mempunyai hubungan interaksi yang cukup intens, dan pada akhirnya akan menghasilkan pemaknaan yang optimal dari teks tersebut. Proses penggalian makna ini sangat bergantung pada sudut pandang pembaca, sehingga tidak bersifat objektif. Pemahaman makna yang dihasilkan pun akan beragam, tergantung dari sudut mana pembaca memahami makna teks tersebut. Pari (dalam Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat, 2001: 6) mengatakan bahwa:
“… apabila ukuran objektif hermeneutika adalah memahami makna sesuai dengan maksud penulis atau pengirim sangat sulit bahkan tidak mungkin dicapai karena pengetahuan kita untuk memahami pikiran penulis dengan cara mengetahui latar belakang sejarah, budaya, dan tujuan penulis atau pengirim secara utuh sangatlah sulit bahkan dapat dikatakan tidak mungkin, kita hanya bisa mengetahui sebagian saja. Ada faktor lain lagi yang menyebabkan kita tidak mungkin memahami makna sesuai dengan kehendak penulis, karena bisa terjadi penulis atau pengirimnya sendiri ketika membaca karyanya sendiri mempunyai pemahaman yang berlainan dengan idenya sendiri yang ingin diungkapkan”.

Penelitian ini mengambil alat analisis Hermeneutika Gadamer. Gadamer terlahir sebagai anak kedua ditengah keluarga pasangan Emma Carolina Johana Gewise (1869-1904) dan Dr. Johannes Gadmer (1867-1928) di kota Marburg, sebuah kota dibagian selatan Jerman (Muzir, 2008: 40). Menurut Gadamer Hermeneutik itu adalah memahami dirinya sendiri bukan sebagai posisi yang mutlak sebuah pengalaman, melainkan sebagai jalan pengalaman itu, dan ini menegaskan bahwa tidak ada prinsip yang lebih tinggi daripada mengusahakan diri tetap terbuka untuk berbicara dengan orang lain (dalam situs http://aufklarung.org/treatise/essay/kebenaran-menurut-gadamer.mspx). Bagi Gadamer makna karya sastra tidak pernah terkuras oleh maksud pengarangnya selagi karya itu berpindah antarkonteks budaya atau histories, makna-makna baru dapat dikumpulkan darinya, makna yang mungkin tidak pernah diantisipasi oleh pengarang atau pembaca saat karya itu ditulis (dalam Eagleton, 2006: 100). Tugas hermeneutika adalah membawa teks keluar dari alienasi dimana ia mendapatkan dirinya (sebagai bentuk tertulis) kembali ke dalam suasana kekinian dialog yang hidup, dimana pemenuhan primodialnya adalah dengan pertanyaan dan jawaban (Palmer, 2005: 237). Dengan demikian hermeneutika merupakan sebuah proses dalam memahami teks. Jadi disini peneliti melakukan proses membaca teks karya sastra dengan seksama sehingga menghasilkan makna teks yang optimal. Makna yang dihasilkan tersebut mengungkapkan gambaran tentang suatu kehidupan masyarakat, baik itu kondisi kekinian maupun kondisi dimana karya itu dihasilkan. Gadamer (dalam Eagleton 2006: 101) mengatakan bahwa semua penafsiran atas sebuah karya yang ditulis dimasa lalu terdiri dari dialog antara masa lalu dan masa kini.




E. Tahap-Tahap Penelitian
Pertama, tahap pengumpulan bahan penelitian dilakukan dengan mengumpulkan karya Ica Rahmanti dan bahan-bahan penelitian lain yang dianggap relevan dengan tema penelitian ini. Kedua, melakukan klasifikasi dengan berdasarkan bahan-bahan penelitian yang telah ada. Ketiga, melakukan analisis yakni upaya melakukan analisis dan interpretasi terhadap bahan penelitian. Keempat, melakukan penulisan laporan penelitian. Tahap-tahap ini dapat dilihat sebagai berikut.























BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Tema Cinta dalam Karya Sastra
Tidak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan dari karya sastra perempuan saat ini berkisar antara tema cinta dan tema seksualitas. Bahkan tidak jarang pula antara dua tema tersebut dipadupadankan menjadi satu dalam sebuah karya sastra. Perpaduan antara tema cinta dan seksualitas dalam sebuah karya sastra merupakan hal yang unik bagi perkembangan karya sastra. Seperti halnya novel-novel yang sering kita temui sedikit banyak mengangkat tentang kedua tema tersebut. Namun demikian, tema cinta selalu muncul dalam berbagai bidang kehidupan. Karya sastra, khususnya novel, sedikit banyak menyertakan tema cinta dalam setiap cerita yang dikisahkannya. Tema cinta yang dihadirkan pun sangat beragam.
Sepertinya tema cinta tidak dapat dipisahkan dengan karya sastra. Sebuah novel akan lebih hidup bila terselip tentang cinta didalam ceritanya. Cinta telah menghidupkan karya sastra. Bagaimana tidak? Kita ketahui bahwa kehidupan manusia di dunia ini selalu dipenuhi dengan cinta. Dengan adanya tema cinta dalam novel atau karya sastra lainnya, maka akan membawa daya tarik tersendiri bagi para pembaca untuk terus menikmatinya, apalagi bila cerita cinta dalam novel tersebut mencerminkan atau berada sangat dekat dengan kehidupan nyata.
Pada perkembangannya, dimulai sejak Balai Pustaka mengeluarkan karya Siti Nurbaya hingga saat ini melalui penerbit-penerbit lainnya (seperti Gramedia, Gagas Media dan lain sebagainya) karya-karya sastra yang muncul selalu menyertakan tema cinta. Perbedaannya ada pada daya bahasa yang digunakan, misalnya karya-karya yang terbit saat ini lebih banyak menggunakan bahasa yang ringan atau bahasa sehari-hari sehingga lebih cepat nyambung kepada pembacanya. Menurut Medy Loekito dan Asvega (dalam situs www.cybersastra.net, 2004), karya sastra saat ini lebih cenderung diarahkan pada kegunaannya yang praktis, yakni yang mudah nyambung kepada pembaca. Meskipun demikian, tema cinta yang ada pada karya-karya sastra sedikit banyak telah memberi kita pelajaran yang berharga mengenai berbagai pemahaman makna cinta dalam kehidupan. Menurut El Moezany dalam tulisannya yang berjudul Cinta dan Kita dalam Sastra (dalam situs http://www.sinarharapan.co.id/berita/0701/06/hib07.htm) mengatakan bahwa karya-karya sastra yang hadir saat ini telah banyak mengajarkan cinta pada kita.
Tema cinta akan terus diangkat dalam karya sastra seolah-olah cinta sudah menjadi bagian yang pokok dalam sebuah karya sastra. Cinta sebagai bumbu penyedap dalam karya-karya sastra telah membuat karya tersebut dapat hidup dalam hati para pembacanya. Oleh karena itu, cinta mempunyai tempat tersendiri dalam dunia sastra. Bahkan tidak tanggung-tanggung sastra telah menjunjung tinggi tentang cinta. Nugraha (dalam situs http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/01/senandung-cinta-dalam-sastra.html) mengatakan bahwa sastra ternyata begitu mampu membuat cinta menjadi dahsyat kekuatannya.

B. Sekilas tentang Icha Rahmanti
Icha Rahmanti lahir di Bandung pada tanggal 22 April 1978 dengan nama asli Nisha Rahmanti, Nisha merupakan penggalan dari kata annisa dalam bahasa arab yang berarti perempuan, sedangkan Rahmanti diambil dari nama dokter yang menolong kelahiran Icha. Icha adalah anak kedua dari pasangan suami istri Drs. Sucipto WS, M.M. dan Dra. Nunung Quraisin, dengan seorang kakak bernama Adham Kurnia dan adik bernama Dimas Krismandi.
Masa kecil Icha dihabiskan di kota Surabaya dan Samarinda karena tugas Ayahnya yang berpindah-pindah. Icha termasuk anak berprestasi semasa di sekolah dasar karena Icha selalu mendapat peringkat pertama di sekolah. Sejak kecil Icha sudah gemar membaca buku-buku cerita, dan sejak saat itulah Icha mulai sedikit demi sedikit belajar untuk menuliskan cerita-cerita menurut dirinya sendiri. Kebiasaan Ica menulis cerita sangat didukung oleh Ibunya. Saat memasuki Sekolah Menengan Pertama (SMP) Icha kembali ke Bandung karena Ayahnya dipindahtugaskan. Icha melanjutkan ke SMP 2 Bandung. Disinilah tulisan-tulisan Icha mulai berkembang dan untuk pertama kalinya tulisannya berjudul “Juragan Memo” dimuat di majalah Kawanku dengan bayaran 50 ribu rupiah.
Saat memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA) Icha masuk SMA 3 Bandung dan mengikuti kegiatan ekstra kurikuler Pasukan Pengibar Bendera, namun karena banyaknya peraturan yang harus ditaati maka Icha mengundurkan diri. Setelah itu Icha mulai memasuki kegiatan ekstra kurikuler Keamanan Sekolah yang ketat dan keras dalam menjaring anggota baru serta berbagai training seperti bending, lari dan push-up. Setelah SMA, Icha melanjutkan kuliah di jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB). Sembari kuliah Icha bekerja sebagai penyiar di Radio Paramuda, dan pada akhir kuliah Icha pindah bekerja di Radio Hard Rock FM Bandung. Setelah lulus kuliah, Icha melakukan berbagai pekerjaan seperti mengajar di Pre-school, membuat usaha konsultan arsitek dan event organizer, dan hampir menjadi news anchor atau reporter di SCTV, namun akhirnya Icha bekerja sebahai penyiar dan produser di Radio Oz Bandung sampai sekarang.
Cintapuccino merupakan novel bergenre chicklit. Pada awalnya hanya beredar novel-novel chicklit terjemahan, artinya chicklit-chicklit yang beredar di Indonesia adalah berasal dari luar Indonesia yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Banyaknya chicklit terjemahan yang beredar di Indonesia, membuat seorang Icha Rahmanti terketuk hatinya untuk membuat novel dengan genre chicklit ini. Hal ini menurut Asyhadie (dalam situs http://fordisastra.com/modules.php?name=nems&file=article&sid=515&mode=tread&order=0&thold=0, 2007) disebabkan karena persoalan-persoalan yang dihadapi perempuan Indonesia jauh lebih kompleks, tuntutan usia menikah yang lebih muda dari Barat, perbedaan-perbedaan adat istiadat dan budaya, belum lagi jika terjadi asimilasi. Konsep Chicklit Indonesia Asli digunakan dalam karya Icha karena tidak ada penulis lain yang mengambil genre ini secara spesifik sementara banyak pembaca Indonesia yang menggemari genre chicklit (www.icha.rahmanti.com).

C. Cintapuccino: Sebuah Karya tentang Cinta
1. Sinopsis
Berawal dari munculnya seorang tokoh hayalan (Nimo) yang hanya ada dalam angan-angan seseorang Apradita Arrahmi (Rahmi) dengan tiba-tiba hadir begitu saja dalam kehidupan nyata sebagai seorang Dimas Geronimo (Nimo). Keberadaan Nimo telah membuat Rahmi penasaran ingin mengetahui lebih dalam tentangnya. Kejadiannya dimulai saat Rahmi beranjak masuk ke SMA Ibu Pertiwi, Bandung. Seperti di sekolah-sekolah pada umumnya selalu ada acara pengenalan berbagai kegiatan ekstrakurikuler sekolah yang akan diikuti oleh para siswa baru, Rahmi menemukan tokoh hayalannya hadir di depan kelas ketika Nimo mengenalkan kegiatan ekstrakurikuler keamanan. Dari kejadian ini, Nimo telah menjadi obsesi seorang Rahmi hingga bertahun-tahun lamanya.
Berbagai usaha Rahmi untuk mewujud obsesi cintanya, yakni mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang sama dengan Nimo (kegiatan ekstrakurikuler keamanan sekolah), memilih jurusan kuliah yang sama dengan Nimo (Teknik Sipil di Sekolah Tinggi Teknologi Nusantara), dan bekerja di tempat yang sama dengan Nimo (D’estain Compagnie). Tidak hanya itu Rahmi juga dengan diam-diam mencari informasi tentang pribadi Nimo, seperti tentang tanggal lahir Nimo, alamat rumah Nimo, keluarga Nimo, hingga mantan-mantan pacar Nimo. Semuanya Ia dapat dari sahabat-sahabatnya di SMA. Namun setelah bertahun-tahun usaha Rahmi untuk mendapatkan sedikit perhatian dari Nimo tidak menghasilkan perubahan apapun dalam hubungan antara Nimo dan Rahmi, maka Rahmi memutuskan untuk menyerah dan menjauhkan Nimo dari pikirannya. Rahmi memilih untuk keluar dari D’estain Compagnie dan kembali ke Bandung untuk mendirikan usaha sendiri dengan membuka distro bermerek Barbietch. Selain itu juga Rahmi berpacaran dengan Raka (seorang produser tv) yang dikenalnya saat masih bekerja di D’estain Compagnie ketika Raka sedang meliput profil pekerja di D’estain Compagnie. Rahmi pun menerina lamaran Raka. Namun, ketika semuanya telah berjalan lancar menunggu saat-saat peresmian pertunangan Rahmi dan Raka, Nimo, obsesi Rahmi selama bertahun-tahun, datang kembali dalam kehidupan Rahmi dan melamarnya. Ini konflik seorang perempuan yang dimunculkan dalam novel Cintapuccino.
Begitu pelik keputusan yang harus diambil oleh Rahmi dalam menjalani kehidupan cintanya. Memilih antara obsesi cinta yang terpendam selama bertahun-tahun atau mempertahankan cinta yang sudah ada di depan matanya. Selain cinta segi tiga, Cintapuccino juga mengisahkan tentang kemandirian perempuan dalam bekerja yang dilakoni oleh tokoh utama. Berbagai keputusan harus di ambil Rahmi dalam pekerjaannya. Hingga akhirnya Rahmi memutuskan untuk keluar dari D’estain Compagnie dan berwiraswasta dengan membuka distro di Bandung.
2. Penokohan
Menurut Jones, penyajian watak, penciptaan citra, atau pelukisan gambaran tentang seseorang yang ditampilkan sebagai tokoh cerita disebut penokohan. Salah satu caranya adalah dengan penamaan (dalam Sugihastuti & Suharto, 2005: 50). Berikut ini adalah penokohan dalam novel Cintapuccino.
a. Apradita Arrahmi
Apradita Arrahmi atau Rahmi/Ami adalah gadis berusia 25 tahun dan merupakan tokoh utama dalam novel ini. Rahmi adalah orang yang susah diatur dan tidak dapat diperlakukan secara keras. Rahmi mempunyai sebuah kebiasaan saat Ia baru bangun tidur, dan kebiasaan itu Ia sebut sebagai “ritual pengumpulan arwah”. Rahmi juga mengakui bahwa dirinya tidak bisa masak. Selain itu, Rahmi juga seorang perokok berat.
Padahal tahun depan aku dan Alin akan beranjak 26, dan Meita 29 (Cintapuccino, hal. 9).

1…2…3…4…5… Aku menghitung dalam hati, lalu melakukan gerakan stretching perlahan sehingga akhirnya aku ada di posisi duduk di atas tempat tidur. Perlahan aku mengangkat bokongku dari posisi itu menuju posisi berdiri, tapi menahannya beberapa saat sampai…
Ah, lega… My morning gas is out of my system!
Pagi ini tidak berbau, hehehe… Ini sedikit memalukan tapi begitulah ritual pengumpulan arwahku setiap pagi saat bangun tidur (Cintapuccino, hal 3-4).

“Waduh Raka … Ami itu minta ampun deh, susah diatur, nggak bisa dikerasin orangnya… ambekan (suka merajuk)”, suara Mama terdengar….. (Cintapuccino, hal. 5).

…….sedangkan aku…… hmm tipikal perempuan kota yang biasanya cuma masak frozen food, mie instant, dan nasi goreng! (Cintapuccino, hal. 139).

Seperti biasa di kubuku adalah gank cewek-cewek yang oleh para tetua disebut Gank Cewek Gaul. Kami satu gank ini perokok berat. Status yang baru saja “dilegalkan” setelah aku dan Alin kuliah….( Cintapuccino, hal. 2).
Rahmi merupakan sosok perempuan pintar dengan postur tubuh yang medium. Hubungan antara Rahmi dengan Alin, sepupunya, sangatlah dekat sehingga keduanya selalu memuji kelebihan masing-masing.
Hebatnya aku tidak pernah iri pada kelebihan Alin. Berbeda sekitar 3 cm lebih pendek dari Alin, dengan postur medium, dan dada yang cukup dengan cup A, aku tidak pernah merasa iri padanya. Aku justru sangat mengaguminya. Dan sebaliknya, Alin mengagumi kepintaranku. Lalu Alin sering berkata betapa dia memuja mataku dan kelopaknya yang seperti sudah diberi eye shadow cokelat natural dari sononya itu. Lesung pipiku yang katanya membuat senyumku terlihat begitu unik. Oya, dia juga mengagumi bentuk bibirku yang katanya tipis tapi menantang. Udah gitu dia juga sekali tekstur rambutku yang sedikit lebih pendek dari rambutnya tapi lembut dan sangat mudah diatur (Cintapuccino, hal. 71).

Saat menginjak ke sekolah menengah, Rahmi sekolah di SMA Ibu Pertiwi dan Ia mengikuti kegiatan ekstrakurikuler keamanan. Sewaktu di SMA, Rahmi mempunyai beberapa orang sahabat, yaitu Sisy, Maya, Tia dan Ucan. Rahmi sudah mempunyai seorang tokoh imajiner ketika Ia mulai menyukai lawan jenis saat Ia beranjak SMP.
Diantara sekian banyak ekstrakurikuler yang terkenal dan maju di SMA Ibu Pertiwi seperti cheersleader, paskibra, vocal group, pecinta alam, atau PMR-nya, aku malah memilih ekskul keamanan dengan satu alasan: Nimo, titik (Cintapuccino, hal. 14).

Ok, rewind… Maya, Ucan, Sissy, dan Tia adalah sahabat-sahabatku semasa SMA (Cintapuccino, hal. 28).

…tapi semenjak aku mulai suka cowok di kelas 2 SMP, aku memiliki tokoh imajiner yang aku namai Nimo dengan ciri-ciri yang aku bayangkan tinggi, berbadan tegap dengan dada bidang (Cintapuccino, hal. 18).

Secara tidak disengaja Rahmi bertemu dengan tokoh yang selalu menjadi imajinasinya dalam kehidupan yang sebenarnya. Pertama kali bertemu ketika acara perkenalan kegiatan ekstrakurikuler di SMA. Sejak saat itu Rahmi menyebutnya sebagai pertanda.
It’s real! My Nimo-yang selama ini aku hayalkan…. Ternyata benar-benar ada, dan dia berdiri tidak jauh dari bangkuku. Aku menyebut ini pertanda (Cintapuccino, hal. 19).

Begitu terobsesinya Rahmi akan Nimo, sampai-sampai Rahmi selalu mengikuti perkembangan Nimo hingga pada gadis-gadis yang dipacari Nimo. Selain itu, Rahmi mempunyai buku diary yang di dalamnya sudah pasti terdapat nama Nimo sampai-sampai Rahmi juga membuat SWOT tentang Nimo.
Aku ingat pernah ada Naya yang dulunya mantan anak Ibu Pertiwi juga seangkatan Nimo. Biasa, tidak terlalu menarik, lebih parah dari Reta kalau aku boleh menambahkan. Lalu ada Ayie, cewek Taknik Kimia yang kemudian aku tahu adalah teman se-SMP Nimo. Lalu ada Tata… Ini berita besar, karena Tata tidak saja senior di jurusan kami, tapi dia juga lebih tua dari Nimo 4 tahun! Lumayan manis dan menarik sih… tapi waktu itu aku masih berfikir gap 4 tahun itu luar biasa. Lalu ada Mayang anak Seni Rupa ’99 yang katanya kenal Nimo gara-gara dia adalah sepupu teman akrab Nimo di kampus. Lalu ada sederetan nama lagi seperti Cia, Nissa, Vera, Santi, Ina dan beberapa nama yang tidak begitu penting karena kurun waktu yang sangat sebentar, hanya dalam hitungan minggu, dan kemudian ada Danis (Cintapuccino, hal. 38).

Diary SMA-ku ada 3. yang merah bergambar Hello Kitty adalah lanjutan dari diary SMP dan bagian awalnya banyak berisi biodata teman-teman dekatku yang berisi cita-cita, alamat libur,… Lalu ada yang biru muda dan ada juga yang berwarna krem dengan bunga-bunga kecil cantik, bau harum dan dengan model kunci gembok kecil di sampingnya. Aku berani bertaruh, di ketiga diary-ku itu, tidak ada satu pun yang tidak bertuliskan Dimas Geronimo di dalamnya (Cintapuccino, hal. 40-41).

Aku berhenti membaca, menggeleng-gelengkan kepala, nyaris tidak percaya aku betul betul pernah menulis itu di buku diary SMA-ku. Aku membuat SWOT tentang Nimo!
SWOT alias Strength, Weakness, Opportunity, and Threat adalah satu materi yang aku dapat pada saat mengikuti Diklat Keamanan, dan aku memakainya untuk menganalisa Nimo!
Totally Unbelievable… (Cintapuccino, hal. 44).

Rahmi juga mempunyai julukan tersendiri untuk menyebut obsesinya akan Nimo. Ia menyebutnya sebagai penyakit Nimo Kronis stadium empat. Selain itu, jika Rahmi mengingat sesuatu akan Nimo Ia selalu manyebutnya sebagai ingatan pangkat dua.
Ah, aku memang sakit parah waktu itu. Nimo Kronis stadium IV…??? (Cintapuccino, hal. 52).
Lalu aku teringat sesuatu lagi setelah mengobrol dengan Tia (Ingatan dalam ingatan…bayangan ingatan pangkat dua! Virus Nimo kronis memang merusak sel otak…) (Cintapuccino, hal. 55).
Lalu ada satu cerita yang membuatku selalu ingin kembali ke masa SMA (ingatan pangkat dua lagi nih…) (Cintapuccino, hal. 61).

Semenjak Rahmi menemukan tokoh imejinernya ada dalam kehidupan nyata, Rahmi sangat terobsesi dengan Nimo. Sewaktu SMA Rahmi mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang sama dengan Nimo, ketika Ia kuliah juga memilih jurusan yang sama dengan Nimo, dan ketika bekerja pun Ia memilih perusahaan yang sama dengan Nimo.
Diantara sekian banyak ekstrakurikuler yang terkenal dan maju di SMA Ibu Pertiwi seperti cheersleader, paskibra, vocal group, pecinta alam, atau PMR-nya, aku malah memilih ekskul keamanan dengan satu alasan: Nimo, titik (Cintapuccino, hal. 14).

Selepas SMA, di tengah kebingungan memilih tempat kuliah, saran Mama supaya aku memilih Teknik Sipil terdengar seperti oase ditengah padang pasir. Teknik Sipil adalah jurusan yang diambil Nimo di Sekolah Tinggi Teknologi Nusantara (STTN), … Aku diterima di Taknik Sipil STTN, jurusan yang sama dengan Nimo. Yippi! (Cintapuccino, hal. 36)

Seingatku aku melamar ke D’estain Compagnie (DC), sebuah service company yang bergerak di industri perminyakan dunia, karena yang aku tahu kebanyakan lulusan dari jurusanku memang sangat berminat bekerja di situ.
Dan Nimo bekerja di situ.
Jadi rasanya alasanku melamar ke perusahaan itu lebih karena Nimo juga bekerja di situ (Cintapuccino, hal. 115-116).

Sewaktu Rahmi bekerja di D’estain Compagnie yang kebanyakan pekerjanya adalah laki-laki, Rahmi sebagai seorang perempuan tidak mau kalah dengan laki-laki. Ia berusaha menjadi atasan yang baik bagi bawahannya.
Tiga bulan pertama di sana, aku merasa seperti di asingkan seperti seorang pesakitan atau tahanan politik di sebuah pulau terpencil. Sebagai Field Engineer, aku mengawasi pekerjaan para pekerja ketika melakukan stimulating, bored atau pilling sebuah sumur minyak. Kadang juga ikut turun tangan supaya tidak berkesan terlalu bossy dan sebagai atasan perempuan, aku merasa perlu membuktikan diri bahwa aku juga bisa mengerjakan pekerjaan mereka, to gain respect tentunya (Cintapuccino, hal. 120).

D’estain Compagnie, adalah tempat dimana Rahmi pertama kali bertemu dengan Raka yang menjadi calon suaminya. Raka adalah seorang produser tv.
Akhir januari 2003 ada rombongan dari sebuah stasiun tv swasta datang ke rig, semuanya laki-laki dan mereka berdelapan. Dengan sekali “quick scan” pada rombongan itu, aku langsung menyukai seorang di antara mereka yang tingginya mungkin sekitar 175 cm, berbahu tegap, berkulit pucat khas eksekutif muda Jakarta…… Dia berkacamata-yang membuatnya tidak hanya ganteng, tapi justru smart. Aku juga suka sekali melihat pakaiannya: celana kargo warna khaki dan kemeja kotak-kotak dengan dalaman t-shirt putih (Cintapuccino, hal. 121).

Setelah bertemu dengan Raka, Rahmi langsung jatuh hati padanya. Bahkan tidak tanggung-tanggung Rahmi mengganggapnya sebagai hal yang istimewa. Kehadiran Raka dirasa begitu tepat dengan segala keadaan Rahmi.
Kedatangan Raka bukan saja sebuah support besar di saat sulitku, tapi juga pengalih perhatian yang sangat bagus untuk Mama dan Papa (Cintapuccino, hal. 132).

Yup, Raka adalah duniaku. Dia membuatku jatuh cinta lagi, dan lebih dari itu dia membuatku merasakan cinta lagi dalam hidup ini; cinta pada kehidupan, cinta pada sesuatu yang aku lakukan sehingga walaupun secara materi yang aku dapat pada awalnya tidak sebesar gaji bulananku di DC, aku merasa puas. Raka membuatku sadar bahwa hal-hal indah memang bisa terjadi di dunia ini, dan Raka selalu membuatku merasa utuh, merasa lengkap walau hanya sebagai seorang aku. In short, Raka is my next best thing (Cintapuccino, hal. 143).

Rahmi adalah seorang yang percaya akan pertanda. Namun demikian tokoh Rahmi mencerminkan perempuan dengan gaya hidup di perkotaan.
It’s real! My Nimo-yang selama ini aku hayalkan…. Ternyata benar-benar ada, dan dia berdiri tidak jauh dari bangkuku. Aku menyebut ini pertanda (Cintapuccino, hal. 19).
“Gue nggak tahu harus gimana… Tadinya gue mau ngabaiin semuanya, dari mulai Maya yang bilang Malia, film Finding Nemo, dari sekian banyak film animasi, boneka Nemo Uwi, stiker Geronimo FM, dan kebanyang nggak sama lo, gue hampir nabrak mobil berplat N 808 NG. Bayangin, mobil Malang ada di Bandung, terus plat N, itu bisa jadi Nimo kan? Angka-angka itu… bisa jadi artinya 8 Agustus, ulang tahun Nimo, tapi mungkin bukan, tapi inisial NG? G-nya itu Geronimo? Ada hubungannya kan? Mmm…Emang sih NG itu maksa banget. Tapi Lin, puncaknya semalam… semalam gue mimpi having sex ama NIMO di tempat fitness. Ini betul-betuk gila… Lo tau ga sebelum tidur, gue ngobrol sama Raka on the phone… dan gue inget banget kalau gue kangen dia… tapi ko mimpiin Nimo?”(Cintapuccino, hal. 181).
“Coba gue tanya, klo jadi gue lo bakalan ngapain? Lo bakalan bilang itu pertanda nggak?” (Cintapuccino, hal. 182).

Aku dan Alin berjalan-jalan, menikmati kehidupan metropolitan dengan godaan konsumerismenya itu. Setiap hari kami lewati dengan nongkrong di mall dan berbelanja, atau ngafe, atau merawat diri di spa. Ah… la vita e bella, life is beautiful! (Cintapuccino, hal. 127).

b. Dimas Geronimo atau Nimo
Seseorang yang menjadi obsesi Rahmi selama bertahun-tahun hingga menjadikannya sebagai penyakit Nimonimous stadium empat adalah Dimas Geronimo atau Nimo. Laki-laki kelahiran 1976 ini mampu membuat Rahmi selalu mati kutu jika bertemu dengannya.
Nama : Dimas Geronimo alias Nimo
TTL : 8 Agustus 1976, Leo
Alamat : Jl. Alfa XII No. 8
Telp : 451473
Nimo itu punya satu adik cowok namanya Rian, anak Bina Bakti baru kelas enam SD. Ada kakak sepupu cewek tinggal sama dia, namanya Gita. Mamanya aktif di yayasan sosial-orang Jawa Tengah, dan Papanya kerja di bank, kalau nggak salah sih orang Jawa juga…(Cintapuccino, hal. 41).

“R…rahmi…?” tegurnya tidak yakin. Dia juga kelihatan kaget melihatku, atau mungkin kaget melihat ekspresiku yang super kaget karena melihatnya seperti melihat hantu di siang bolong. Damm… after all those years, aku tetap tidak bisa terlihat terkontrol dan terkendali di depan Nimo, aku selalu bertingkah aneh… Memalukan! (Cintapuccino, hal. 69).

Semua orang yang mengenal Nimo pasti berpikiran bahwa Nimo adalah tipe cowok idaman yang ganteng, pintar, dan kaya. Hal ini terbukti ketika Nimo lulus dari Jurusan Teknik STTN, ia langsung diterima di D’estain Compagnie (DC) sebuah perusaan bertaraf internasional sebagai international staff. Namun demikian, Nimo tetap saja mempunyai kekurangan.
The big surprise-nya adalah aku malah nemuin kalo Nimo itu ternyata orangnya sangat nggak pd-an. Aneh? Hard to believe kan? Seorang seperti Dimas Geronimo, d next mas Boy itu taunya suka minderan… Tapi Ka, itu ngejelasin banyak hal akhirnya. Kayak kenapa Nimo nggak suka milih, buat dia nggak ada bedanya kemeja ijo atau krem, he even doesn’t care how he wants his steak to be baked… Dia gak peduli apa itu , medium atau welldone, yang penting steak, titik. Yg lebih lucu, Nimo ternyata punya semacam kocokan arisan di mobilnya yang isinya jenis atau tempat makan tertentu. Iya, dikocok, gitu cara Nimo milih hari ini makan apa atau ke mana! Ini akhirnya ngejawab juga kenapa dia hobi bgt ngegantung omongannya, juga tentang mantan-mantan pacarnya yg gak punya benang merah itu… he doesn’t know for sure what he really wants ((Cintapuccino, hal. 254).

Begitu lulus dengan IPK nyaris 4 dan gelar cum laude, Nimo kabarnya langsung dengan mulus melewati tahap-tahap seleksi DC. Aku tidak pernah bertemu lagi dengannya di kampus semenjak dia diwisuda. Tapi yang aku dengar setelah training di Jakarta, Nimo langsung ditugaskan di Riau sebulan saja sebelum akhirnya Nimo diangkat sebagai international staff dan bertugas di Norwegia, Qatar, dan lalu Oklahoma (Cintapuccino, hal. 116).



c. Danang Raka Soediro
Raka, seorang laki-laki ganteng yang menjadi calon suami Rahmi. Raka termasuk orang yang sangat mandiri. Dia juga telah terbiasa melakukan pekerjaan rumah sendiri, seperti halnya memasak.
Dia berkacamata-yang membuatnya tidak hanya ganteng, tapi juga smart (Cintapuccino, hal. 121).
“Raka,” si ganteng itu langsung memperkenalkan diri ketika Mr. Jefferson, menejerku,….. (Cintapuccino, hal. 122).
Aku duduk di kursiku dan Raka tetap berdiri di sampingku dengan tampang bingung. Alin melongo mendapati aku balik dari toilet dengan pemuda ganteng membuntuti aku (Cintapuccino, hal. 131).

….., Raka orangnya sangat mandiri (dia tidak hanya bisa mengerjakan banyak pekerjaan rumah sendiri seperti mencuci dan menyetrika, bahkan bisa memasak berbagai masakan Indonesia yang bumbunya ngejelimet…) (Cintapuccino, hal. 139).

Raka adalah seorang produser tv. Pertama kali bertemu dengan Rahmi sewaktu ia ditugaskan untuk meliput tentang pekerja di offshore. Raka termasuk seorang pekerja keras, disiplin dan suportif. Bagi Rahmi, Raka merupakan sosok laki-laki yang sempurna.
Ternyata rombongan itu datang untuk membuat sebuah feature tentang pekerja di offshore.
Raka lalu memperkenalkan krunya, karena ia bertindak sebagai produser acara itu- the guy in charged-nya lah… (Cintapuccino, hal. 121-122).
Tapi Raka membuat pikiranku berubah. Dia datang di saat yang tepat karena sikapnya selalu sportif. Sebetulnya gagasan membuka distro itu datangnya dari Raka (Cintapuccino, hal. 141).
Selama ini aku pikir aku sudah cukup mengenal Raka, cowok yang menjadi calon suamiku itu. Kalau aku diminta mendeskripsikan Raka dalam kata aku akan memilih: idealis, humanis, penyayang, penyabar, dan broad minded. Mmm… kalau boleh lebih dari lima kata aku akan menambahkan kata ganteng dan sangat pintar (Cintapuccino, hal. 217).
Raka ternyata sangat disiplin dan teratur.jam berapa pun dia tidur, dia akan bangun tepat pukul 5 pagi keesokan harinya dan jalan pagi sekitar 30 menit… Oya, Raka ternyata tidak pernah melewatkan acara berita pagi stasiun tv-nya dengan segelas kopi hitam (3 sendok kopi, 2 sendok gula) dan Raka ternyata pecinta berat Pink Floyd (Cintapuccino, hal. 194).

d. Alin
Alin adalah sepupu Rahmi. Alin dan Rahmi mempunyai hubungan yang sangat dekat, karena faktor usia yang sama, yaitu 25 tahun, sehingga selain hubungan sepupu, hubungan Alin dan Rahmi lebih dari persahabatan. Dapat dikatakan bahwa Alin adalah belahan jiwa Rahmi.
Alin, sepupu yang sudah seperti belahan jiwaku itu memang seorang gadis seksi dengan garis wajah tegas, cenderung judes yang justru menurutku semakin memperkuat kesan seksinya. Rambut Alin panjang dengan model layer yang keren sering terlihat acak-acakan. Menjuntai diantara leher mulusnya, yang justru memberi frame ke daerah dadanyayang indah, membuat Alin walaupun cuma memakai setelan celana jeans dan kaos putih selalu bisa membuat cowok-cowok tidak saja melirik, tapi menoleh untuk melihatnya. Natural, liar… seperti bunga liar cantik di padang heidi (Cintapuccino, hal. 70).

Seperti halnya Rahmi, Alin juga merupakan perempuan gaul yang mempunyai banyak teman. Alin juga perokok berat dan mempunyai tipe cowok idaman tersendiri. Selain itu Alin juga suka berdandan dan menyukai kehidupan malam.
Damn, kalau Alin sudah ngedudem, itu tandanya dia baru bisa dihubungi besok siang sekitar jam 1 (Cintapuccino, hal. 95).
Dan mulailah aku merintis Barbiecth! Bersama Alin dengan modal tabungan gajiku dulu. Alin yang kebetulan tidak berminat kerja kantoran, setelah kemarin-kemarin dia mencoba ikutan bisnis warnet dengan teman-temannya, ikut bergabung. Miss Gaul ini punya banyak kenalan seperti pekerja yang membuat kaos, tas, dan sebagainya dan bisa mendapatkan bahan-bahan dengan kualitas terbaik dan harga miring, plus dia lulusan desain produk juga (Cintapuccino, hal. 141-142).

e. Sisy, Maya, Tia dan Ucan
Keempat sahabat rahmi ketika masih duduk dibangku SMA adalah Sisy, Maya, Tia dan Ucan. Rahmi dan keempat sahabatnya sangat kompak, tidak hanya tentang bocoran soal ulangan, bergosip, tapi juga tentang kecengan msing-masing. Bahkan dari sahabatnya ini Rahmi dapat memperoleh informasi tentang Nimo.
Ok, rewind… Maya, Ucan, Sissy, dan Tia adalah sahabat-sahabatku semasa SMA (Cintapuccino, hal. 28).
Tapi anyway, siang itu juga kami ngalor ngidul ngegosip tentang banyak hal dengan topik utama tetap cerita dari Diklat Keamanan aku dan Maya, akhirnya aku baru tahu lagi beberapa fakta tentang Nimo. Biasa… saking solidnya gank kami ini, keempat sahabatku adalah sumber informasi yang luar biasa hebat dan sangat bisa diandalkan. Bertukar info kecengan memang agenda tetap setiap kami ketemuan, selain bocoran soal ulangan tentunya (Cintapuccino, hal. 28-29).

Jika Rahmi dan Maya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Keamanan, maka Sissy dan Tia mengikuti kegiatan cheerleaders, sedangkan Ucan mengikuti kegiatan Vocal Group. Disetiap saat ketika Rahmi dan sahabat-sahabatnya berkumpul sudah dipastikan gank mereka menggunakan kata-kata gaul yang mereka dapat dari siaran radio.
Lalu cerita tentang banyak banget senior cowok ganteng yang kayaknya seru buat jadi kecengan, sampai-sampai aku dan Maya lupa kalo Sissy dan Tia juga ternyata berhasil masuk tim cheerleaders, dan Ucan berhasilditerima jadi anggota baru Vocal Group (Cintapuccino, hal. 28).

“Ye kali yee, yee kuadrat dong!” cetus Sissy si bawel membuat kami sempat tertawa-tawa. Sissy dan Maya memang penggemar radio sejati, jadi mereka berdua adalah orang-orang yang paling cepat tanggap dengan pemakaian kata-kata gaul yang dikondangkan oleh penyiar favorit mereka pada masa itu (seperti kata ‘skalee’, ‘kali yee’, dan ‘tentunya’ yang diucapkan dengan intonasi tertentu) sebelum akhirnya menularkannya pada aku, Ria, dan Ucan (Cintapuccino, hal. 30).

Jika Maya adalah orang yang ekspresif, maka Sissy adalah orang yang mempunyai ingatan yang buruk.
… Iya, Sissy itu orangnya short term memory yang parah! Ingatannya hanya bertahan 48 jam! Dan aku baru ingat tadi diawal cerita, Sissy tidak yakin kapan sebetulnya dia mendapat info tentang Reta dari Lala. Aduh Sissy….(Cintapuccino, hal. 31).

“Lagian elo ngecengin Nimo, playboy kondang Ibu Pertiwi…gimana sih?! Lo harusnya tahu cowok-cowok model dia ama Dion itu, bukan buat dijadiin PH-Proyek Hate (Hati), bikin sakit hati aja…,” dengan ekspresif Maya berkomentar (Cintapuccino, hal. 29).
“Apraditha Arrahmi,” kata Maya tegas dengan mimik ekspresif khas-nya, “It was high school, Darling… and let’s not forget how he can be such an insensitive jerk, masak gak inget sih lo? Please dooong… zaman SMA???” Maya memberi ekspresi “lo-goblok-banget-kalo-gak-inget-kelakuan-rese-Nimo” yang berlebihan, maklum… Maya Drama Queen (Cintapuccino, hal. 61-62).

3. Alur dan Latar Cerita
Alur merupakan salah satu unsur yang penting dalam sebuah novel. Boulton (1984) mengibaratkan alur sebagai rangka dalam tubuh manusia. Tanpa rangka, tubuh tidak dapat berdiri. Alur cerita dalam sebuah novel meliputi semua peristiwa-peristiwa yang dialami oleh para tokoh dalam novel. Menurut Stanton (1965) alur adalah cerita yang berisi urutan peristiwa, tetapi setiap peristiwa itu dihubungkan secara kausal. Peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan peristiwa yang lain (dalam Sugihastuti & Suharto, 2005: 46).
Berikut ini adalah alur yang terdapat dalam novel Cintapuccino.
• Bagian pertama (Cintapuccino, hal. 1-12) diceritakan pada November 2003. Pada saat itu Rahmi telah menjadi pacar Raka dan sudah mempunyai rencana untuk menikah. Pada bagian ini juga diceritakan latar sosial yang melatarbelakangi keluarga tokoh utama, yaitu latar belakang sosial keluarga Sunda.
• Pada bagian kedua dan ketiga (Cintapuccino, hal. 13-68), pembaca akan dikembalikan kemasa lalu (tahun 1993), ketika Rahmi masih duduk di bangku SMA dan kuliah. Disini juga diceritakan bagaimana terobsesinya Rahmi kepada Nimo.
• Kemudian pada bagian keempat dan kelima (Cintapuccino, hal. 69-114) menceritakan tentang bagaimana untuk pertama kalinya Nimo kembali pada kehidupan Rahmi setelah Rahmi berpacaran dengan Raka dan hampir menikah.
• Bagian keenam sampai bagian kesembilan (Cintapuccino, hal. 115-180) mengungkapkan bagaimana pertama kali Rahmi bertemu dengan Raka di D’estain Compagnie. Selain itu, bagian ini juga mengisahkan tentang konflik cerita. Puncaknya adalah ketika Nimo melamar Rahmi disaat Rahmi telah menerima pinangan Raka.
• Bagian kesepuluh sampai bagian kelimabelas (Cintapuccino, hal. 181-257) merupakan bagian akhir dari novel Cintapuccino. Penyelesaian akan berbagai permasalahan cinta Rahmi. Nimo yang ingin melihat calon suami Rahmi (Raka) merasa kecewa dengan tindakan Raka yang tidak berusaha mempertahankan Rahmi. Raka lebih menyerahkannya kepada takdir (Tuhan). Raka memutuskan untuk menunda pernikahannya dengan Rahmi hingga Rahmi benar-benar yakin akan pilihannya. Hingga akhirnya Rahmi memutuskan untuk memberi kesempatan pada Nimo untuk mewujudkan obsesi cintanya.
Selain alur, unsur penting lainnya yang membuat sebuah novel menjadi layak untuk dibaca adalah latar. Menurut Sugihastuti & Suharto (2005: 54) mengatakan bahwa dalam analisis novel, latar (setting) juga merupakan unsur yang sangat penting pada penentuan nilai estetik karya sastra. Latar sering disebut sebagai atmosfer karya sastra (novel) yang turut mendukung masalah, tema, alur dan penokohan. Oleh karena itu, latar merupakan salah satu fakta cerita yang harus diperhatikan, dianalisis dan dinilai. Latar atau setting adalah tempat dan waktu dalam sebuah cerita, mencakup lokasi atau tempat, waktu peristiwa berlangsung. Menurut Kenney (1966) latar meliputi penggambaran lokasi geografis, termasuk topografi, pemandangan, sampai pada perincian perlengkapan sebuah ruangan; pekerjaan atau kesibukan sehari-hari para tokoh; waktu berlakunya kejadian, asal sejarahnya, musim terjadinya; lingkungan agama, moral, intelektual, sosial dan emosional para tokoh (dalam Sugihastuti & Suharto, 2005: 54).
Latar yang disajikan dalam novel Cintapuccino adalah Jakarta dan Bandung yang keduanya merupakan wilayah perkotaan yang padat penduduk. Lingkup latar yang kecil membuat ceritanya tidak membingungkan sehingga pesan yang disampaikan mudah diterima oleh pembaca. Latar waktu yang digambarkan dalam novel Cintapuccino menguraikan tentang kehidupan cinta perempuan muda perkotaan dalam menghadapi permasalahan cinta dan karier dalam pekerjaannya.
Fakta yang terdapat dalam novel Cintapuccino diatur dengan rapi sehingga pesan dalam cerita mudah dipahami. Latar dan alur yang digambarkan secara jelas dalam novel Cintapuccino, seperti peristiwa-peristiwa yang diuraikan secara gamblang, perwatakan yang ditampilkan pada setiap tokoh, serta konflik yang dihadapi oleh tokoh, membuat cerita terasa menarik dan disampaikan dengan bahasa yang sangat sederhana (sehari-hari) sehingga seakan-akan cerita dalam novel Cintapuccino benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata.

D. Makna Cinta dalam Novel Cintapuccino
1. Obsesi dan Cinta
Kata orang cinta itu indah tapi kadang membawa derita. Apa pun makna cinta yang sekarang berkembang di masyarakat tidaklah menyurutkan keagungan cinta itu sendiri. Terkadang kita salah menafsirkan antara cinta, nafsu, dan obsesi. Hal ini tentu saja tidak lepas dari banyaknya cerita yang muncul di masyarakat yang berkaitan tentang cinta. Cinta itu sendiri tidak terbatas, sangat luas dan sangat tinggi untuk dijadikan suatu definisi. Oleh karena itu, sangatlah wajar bila pemaknaan tentang cinta yang berkembang di dalam masyarakat sangatlah beragam.
Banyaknya karya-karya tentang cinta yang berkembang di dunia sastra telah melanggengkan makna cinta itu sendiri. Seperti halnya novel-novel yang berkembang dari dulu hingga sekarang, di dalamnya tidak akan lupa untuk menyertakan sekelumit tentang cinta. Begitu pun dengan novel Cintapuccino yang ceritanya sarat dengan tema cinta. Cerita cinta yang disampaikan dalam novel Cintapuccino bertema tentang obsesi dan cinta. Hal ini mengingatkan kita tentang batasan antara obsesi dan cinta amatlah sangat tipis.
Obsesi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988) adalah gangguan jiwa berupa pikiran yang selalu menggoda seseorang dan yang sangat sukar dihilangkan. Jika sangat terobsesi dengan sesuatu, maka sesuatu itu akan selalu mengikuti pikiran kita. Sama halnya dengan cinta. Jika seseorang sedang mengalami jatuh cinta, maka ia akan selalu mengingat orang yang dicintainya. Hal ini diungkapkan oleh Ghozally (2005: 34-40) yang mengatakan salah satu gejala jatuh cinta adalah setiap saat, setiap detik dia selalu ada dalam benak. Pendapat ini juga didukung oleh Al-Jauziyyah (1417 H: 218) yang mengatakan bahwa siapa yang mencintai sesuatu, tentu dia banyak mengingatnya, dengan hati maupun dengan lidahnya. Itulah sebabnya, batasan antara obsesi dan cinta amatlah tipis.
Batasan yang tipis antara kedua hal tersebut terkadang membuat seseorang salah menafsirkan makna cinta. Misalnya saja yang sedang kita rasakan adalah obsesi, akan tetapi secara tidak sadar otak kita mengatakan kalau itu adalah cinta. Namun demikian, antara cinta dan obsesi mempunyai sifat sendiri-sendiri yang berbeda satu dengan yang lainnya. Di bawah ini adalah perbedaan antara cinta dan obsesi (dalam situs http://id.answers.com/question/index?qid=20080219024843AamG4fz), yaitu:
Cinta adalah cinta, dimana:
• Saat kamu mencintai seseorang, kamu akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya walaupun kamu harus mengorbankan dirimu sendiri.
• Saat kamu mencintai seseorang dan berada disisinya maka kamu akan menggenggam erat tangannya dan tetap tersenyum kepadanya walaupun ia melepaskan genggamannya dari kamu.
• Saat kamu mencintai seseorang, dikala ia menangis kamu akan membiarkannya menangis dipundakmu sambil berkata “Mari kita selesaikan masalah ini bersama-sama”.
• Saat kamu mencintai seseorang, kamu menilai pasanganmu dengan berkata “Buatku ia adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan padaku…”.
• Pada saat orang yang kamu cintai menyakitimu, maka kamu akan berkata “Tak apa...dia hanya tidak tahu apa yang dia lakukan”.
• Pada saat kamu mencintainya, kamu akan selalu menantinya dengan setia dan tulus.
• Cinta adalah kamu akan menemaninya disaat bagaimana pun keadaanmu.
• Cinta adalah hal yang memberi dengan rela.

Obsesi adalah suka, dimana:
• Saat kamu menyukai seseorang, kamu ingin memilikinya untuk keegoisanmu sendiri.
• Saat kamu menyukai seseorang dan berada disisinya maka kamu akan sekali menggenggam tangannya, kamu tidak akan mau melepaskan tangan itu walaupun ia telah meronta dari kamu.
• Saat kamu menyukai seseorang, dikala ia menangis kamu akan berkata “Sudahlah, jangan menangis”.
• Saat kamu menyukai seseorang, kamu menilai pasanganmu sambil berkata “Ia sangat cantik dan menawan”.
• Pada saat orang yang kamu suka menyakitimu, maka kamu akan marah dan tak mau lagi bicara padanya.
• Pada saat kamu menyukainya, kamu akan memaksanya untuk menyukaimu.
• Suka adalah kamu akan menemaninya bila itu menguntungkan dan dikala ia membutuhkan saja.
• Suka adalah hal yang menuntut.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa obsesi adalah keinginan untuk memiliki pada suatu hal, dan didalamnya terkandung egoisme yang tinggi, yaitu sikap mementingkan diri sendiri. Apabila obsesi itu ditujukan pada individu yang lain maka ia hanya akan bertindak untuk keuntungan dirinya tanpa memperhatikan orang lain. Sebaliknya, cinta lebih mementingkan orang lain diatas kepentingan diri sendiri. Segala tindakan ditujukan untuk kepentingan orang yang dicintai hingga terkadang melahirkan sikap simpati diantara keduanya. Sebagaimana cinta antara Rahmi dan Raka. Ketika Rahmi telah mencintai Raka, Rahmi menganggapnya sebagai karunia Tuhan. Raka begitu mencintai Rahmi. Disaat Rahmi menangis, Raka membiarkannya menangis dalam pelukannya.
Adanya Raka dalam hidupku membuat aku mulai yakin. Tuhan memang memberikan yang terbaik untukku, dan sekarang aku sudah bisa melihat kenapa Tuhan tidak pernah mengizinkan Nimo menjadi duniaku. Dan aku berterima kasih pada-Nya untuk itu (Cintapuccino, hal. 143).

Tangisku pecah lagi, aku sampai-sampai tidak bisa bicara.
Raka memelukku erat sekali. “Itu yang terbaik buat semua.” (Cintapuccino, hal. 215).

Raka selalu ada buat Rahmi, menerima apapun keadaan Rahmi, menerima sifat Rahmi, menerima Rahmi disaat Rahmi menjadi pengangguran setelah keluar dari DC, bahkan Raka sangat men-support Rahmi tentang pekerjaannya. Cinta yang begitu besar pada Rahmi, menjadikan Raka untuk rela melepaskan Rahmi. Merupakan hal yang sangat sulit untuk melepaskan orang kita cintai. Namun demi kebahagiaan Rahmi, Raka rela melepaskan Rahmi untuk memilih obsesinya. Rahmi memang mencintai Raka dan belum bisa melupakan Nimo, tapi bukan berarti setelah Rahmi berpisah dari Raka ia langsung mengejar Nimo, tetapi untuk kebahagiaan Raka yang sangat gila pada pekerjaan.
“Waduh Raka … Ami itu minta ampun deh, susah diatur, nggak bisa dikerasin orangnya… ambekan (suka merajuk)”, suara Mama terdengar…
“Ah, justru itu seninya tante… Raka nggak suka yang nurut-nurut, kurang menantang,” semua orang ikut tertawa mendengar jawabannya (Cintapuccino, hal. 5).

“Dan aku nggak keberatan kok untuk sementara punya pacar pengangguran…,” tambah Raka lagi sambil melirik aku… (Cintapuccino, hal. 140).

…Raka membuatku sadar bahwa hal-hal indah memang bisa terjadi di dunia ini, dan Raka selalu membuatku merasa utuh , merasa lengkap walau hanya sebagai aku. In short, Raka is my next best thing (Cintapuccino, hal. 143).

“… Aku berhasil dapat tawaran magang di UK. Dua tahun…di London News Hilite.”

Raka menggeleng. “Maunya sih begitu, tapi 2 tahun bukan waktu yang sebentar… nggak adil rasanya kalau aku minta kamu nunggu 2 tahun. Aku sekarang lagi kepengen serius di kerjaan, dan ambil kesempatan yang ada di depan mataku… I have to do this, Rahmi… aku harus berangkat…” (Cintapuccino, hal. 235).

Cinta berbeda dengan obsesi. Obsesi yang dimiliki Rahmi terhadap Nimo antara lain ditunjukkan oleh sikap Rahmi terhadap Nimo yang marah dan tidak mau bertemu atau pun berbicara lagi dengan Nimo karena Rahmi menganggap Nimo sebagai pengganggu dalam hidupnya.

Tapi tiba-tiba dengan satu kekuatan terakhir, aku berbalik lagi, menghampirinya, dan Nimo memandangku tanpa kedip. “Ini terakhir kalinya kita ketemu. Pegang janji lo supaya kita nggak ketemu lagi… gimana pun caranya, gue nggak peduli, kalau pun tiba-tiba secara nggak sengaja kita ketemu… dan lo liat gue duluan, tolong ya… pergi sejauh-jauhnya dan jangan tegur gue…,” kataku perlahan dengan suara bergetar (Cintapuccino, hal. 187).

Rahmi begitu mengagumi ketampanan Nimo. Inilah yang menjadi obsesinya semakin mengkronis.
Dimas Geronimo alias Nimo berdiri tepat di depanku. Terlihat begitu charming dengan senyum dan tatapan pembeku andalannya. Oya ditambah juga setelan celana jeans dan kaos polo hitam yang kelihatan sempurna di badan yummy-nya (Cintapuccino, hal. 79).

Obsesi Rahmi selama bertahun-tahun serta usahanya untuk mendapatkan perhatian dari Nimo telah membuat Rahmi menjadi ingin mendapatkan balasan dari Nimo. Usaha Rahmi membuat dirinya bersikukuh untuk memiliki Nimo. Pada Cintapuccino halaman 111 sampai 112 menceritakan bagaimana Rahmi mengungkapkan semua usaha yang pernah ia lakukan untuk mendapatkan cinta Nimo, namun Nimo hanya terdiam melihat sikap Rahmi yang tiba-tiba berubah. Pada halaman tersebut secara tidak langsung mengungkapkan adanya suatu pemaksaan, yakni menginginkan Rahmi supaya Nimo membalas cinta Rahmi, paling tidak Nimo memberikan sedikit perhatian atas usaha Rahmi. Walaupun demikian, pada akhirnya Nimo menyadari bahwa ia ternyata juga mencintai Rahmi.

2. Cinta dan Motivasi
Makna cinta yang terdapat dalam novel Cintapuccino mempunyai makna yang positif bagi tokoh utamanya. Berawal dari sebuah obsesi hingga akhirnya menjadi cinta. Pertama, obsesi cinta telah membawa Rahmi untuk masuk pada kegiatan akstrakurikuler Keamanan sewaktu di SMA. Kegiatan ini biasanya banyak diminati oleh anak laki-laki, akan tetapi Rahmi sangat antusias untuk kegiatan tersebut. Kedua, Rahmi melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Teknologi Nusantara (STTN) jurusan Teknik Sipil, satu jurusan dengan Nimo. Awalnya Rahmi hanya menuruti saran dari Ibunya. Namun, akhirnya Rahmi banyak berharap akan sering bertemu Nimo dan berfikir bisa menjadi kekasih Nimo. Ketiga, Rahmi melamar pekerjaan di perusahaan yang sama dengan Nimo. Rahmi berhasil bekerja di sebuah perusahaan internasional yang banyak diminati oleh sebagian besar orang. Melalui usaha yang ia lakukan sendiri, ia berhasil menempati posisi field engineer di D’estain Compagnie (DC).
Melihat Nimo berlalu dari pintu kelasku, tekadku membaja-melewati fase membulat- bahwa apapun yang terjadi aku harus mengenalnya, dan satu-satunya cara yang terfikir olehku saat itu hanyalah mendaftar jadi anggota Keamanan (Cintapuccino, hal. 23).

… Aku diterima di teknik Sipil STTN, jurusan yang sama dengan Nimo. Yippi! (Cintapuccino, hal. 36).

… Tapi akhirnya aku piker ini adalah karmaku karena memilih bekerja di situ untuk satu alas an yang sangat bodoh: Nimo (Cintapuccino, hal.115).
Seingatku aku melamar ke D’estain Compagnie (DC), sebuah service company yang bergerak di industri perminyakan dunia, karena yang aku tahu kebanyakan lulusan dari jurusanku memang sangat berminat bekerja di situ. Perusahaan itupun melakukan rekruitmen setiap tahunnya. Kata orang sih orang-orang yang bekerja di sana turn over-nya tinggi, sehingga mereka dengan cepat selalu mencari tenaga-tenaga baru (Cintapuccino, hal.116).


Cinta telah menjadi suatu motivasi bagi seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan. Motif menurut Winkel (1983: 27) adalah daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Motif merupakan suatu kondisi intern atau disposisi (kesiapsiagaan). Lebih lanjut Winkel mengatakan bahwa motivasi adalah daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan/dihayati. Cinta merupakan daya penggerak yang tidak terlihat namun sangat dirasakan keberadaannya sehingga cinta mempunyai peran yang cukup penting bagi manusia dalam menjalankan aktivitasnya. Berdasarkan motif cinta, seseorang dapat menjadi yang terbaik bagi dirinya dan bagi orang-orang yang dicintainya.
Masyarakatlah yang menyebut kalau sesuatu itu adalah sebuah cinta, sebagai contoh bila kita melihat seorang laki-laki sedang mentraktir makan seorang perempuan, kita bisa saja menyebut itu cinta, dan contoh yang paling gamblang adalah adanya sistem perkawinan di dalam masyarakat yang sudah berlangsung selama berabad-abad. Perkawinan selain sebagai proses keberlangsungan hidup manusia juga sebagai bentuk cinta bagi orang yang telah melakukannya. Dengan adanya cinta pada diri setiap individu di masyarakat maka cinta telah mempunyai fungsi positif bagi manusia.
Cinta mempunyai fungsi yang penting bagi keberadaan individu di dalam masyarakatnya serta sebagai unsur yang penting bagi kelangsungan hidup manusia. Menurut Glenn van Ekeren mengatakan bahwa cinta kepada seseorang itu umumnya akan melahirkan sifat positif dalam segala hal. Cinta itu merupakan bagian dari energi yang kita rasakan. Dimana cinta bisa membuat seseorang menjadi lebih bijak, tidak egois, sehingga mampu memberikan kegembiraan dan keberhasilan bagi pasangan satu sama lain (dalam situs http://www.freelists.org/archives/kepalabatu/10-2001/msg00007.html).
Cinta merupakan simbol bagi adanya kehidupan. Adanya kehidupan ditandai dengan adanya proses interaksi. Makna cinta dihasilkan melalui proses interaksi manusia di dalam masyarakat. Melalui proses interaksi manusia akan memperoleh makna. Pencarian simbol dan makna ini dapat kita lihat melalui teori interaksionisme simbolik.
Melalui proses interaksi, manusia dapat mengelola kemampuan berpikirnya sehingga ia dapat mempelajari simbol-simbol yang ada. Manurut Ritzer simbol merupakan objek sosial yang dapat menggantikan sesuatu yang lain, kata-kata, benda fisik dan tindakan fisik dapat dijadikan simbol (2004: 292). Melalui kata-kata manusia dapat mengerti simbol-simbol sehingga dapat memahami makna yang dimaksud saat ia berinteraksi.
Cinta merupakan simbol bagi manusia untuk berinteraksi. Bahasa cinta (tatapan mata, puisi cinta, bunga, cincin, pacaran, pernikahan, dll) merupakan simbol yang dapat membuat manusia memahami makna cinta. Simbol-simbol cinta tersebut menjadi stimulus atau rangsangan didalam proses berpikir manusia sebagai suatu motivasi untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu. Setelah manusia memahami makna cinta, ia akan melakukan tindakan khusus yang selaras dengan makna yang didapat dan menghasilkan pola tindakan dan interaksi yang berkaitan satu sama lain sehingga akan membentuk suatu kelompok.
Begitu pula dengan tokoh Rahmi dalam novel Cintapuccino, proses interaksi yang ia lakukan dengan tokoh-tokoh pendukung lainnya dalam novel melalui bahasa-bahasa cinta telah menciptakan makna-makna tersendiri dalam mengartikan cinta. Setelah menangkap makna dari proses interaksi tersebut Rahmi memutuskan untuk bertindak sesuatu terhadap kehidupan cintanya. Seperti halnya Rahmi menggunakan cinta sebagai dasar dalam memilih kegiatan ekstrakuruluker apa yang akan dia ikuti, jurusan kuliah apa yang ia ambil, pekerjaan apa yang akan ia geluti, serta memutuskan dengan siapa ia akan menjalani pernikahannya. Hingga akhirnya Rahmi memutuskan untuk menikah dengan seorang Nimo, orang yang menjadi obsesinya selama bertahun-tahun untuk membentuk suatu kelompok kecil yang bernama keluarga. Dengan demikian, maka cinta dalam hal ini telah menjadi suatu landasan atau dasar bagi seseorang dalam bertingkah laku atau mengambil keputusan dalam berbagai persoalan hidupnya. Sebuah situs mengatakan bahwa cinta memang pendorong mendasar laku seseorang (dalam situs http://cahayahati.multiply.com/journal/item/15).
3. Konflik sebagai Bagian dari Cinta
Konflik atau pertengkaran dalam dunia percintaan merupakan hal yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Pertengkaran yang dibanjiri dengan tangis air mata, perasaan sedih dan merana, serta kedukaan yang mendalam merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari cinta. Bahkan adanya pertengkaran atau konflik ini adalah bumbu-bumbu dalam bercinta. Dramawan Terence (dalam Tresidder, 1997: 197) mengatakan bahwa pertengkaran diantara kekasih adalah pembaruan cinta. Pada halaman yang sama Tresidder (1997: 197) mengatakan bahwa pertengkaran adalah kemesraan yang tersembunyi, beban seksualitas, pergumulan verbal yang memberikan kesempatan kepada sepasang kekasih untuk menciptakan kembali masa-masa awal cinta mereka. Pertengkaran atau konflik dalam percintaan tidak hanya terjadi pada pasangan muda-mudi yang sedang jatuh cinta saja, akan tetapi juga seringkali terjadi pada kehidupan rumah tangga.
Cinta adalah hal yang dimiliki oleh setiap manusia di bumi. Jika manusia hidup tanpa cinta maka yang muncul adalah sikap peperangan, pertikaian, dan pertengkaran/konflik, baik itu hubungan antara sesama manusia, hubungan manusia dengan alam, maupun hubungan manusia dengan Tuhannya. Namun pertengkaran atau konflik yang ada pada hubungan dua insan tidaklah selalu demikian. Adanya konflik dalam dunia percintaan tidak hanya mempunyai dampak yang negatif, akan tetapi sebaliknya pertengkaran atau konflik dapat memperkuat ikatan cinta. Hal ini diungkapkan Tresidder (1997: 199) sebagai berikut.
“Tidak menutup kemungkinan pada saat-saat itu (konflik) kelemahan masing-masing pihak diungkit-ungkit tanpa tedeng aling-aling, bahkan ada yang diserta dengan kekerasan terhadap perasaan kedua belah pihak, namun tidak ada peristiwa hati yang dapat bertahan lama tanpa mampu mempertahankan argumen dan menciptakan rekonsiliasi, dan akibatnya cinta sendiri akan menguat lebih dari sebelumnya”.

Cerita cinta dalam sebuah novel pun telah menyuguhkan konflik percintaan yang membuat pembaca dapat larut ke dalam arus cerita. Konflik antar tokoh yang dihadirkan dalam sebuah novel membuat cerita yang disampaikan menjadi berwarna dan lebih bermakna. Konflik biasanya terdapat ditengah alur cerita dari sebuah novel. Terdapat enam belas bagian dalam novel Cintapuccino, dan konflik terjadi bagian keenam sampai bagian kesembilan (Cintapuccino, hal. 101-180).
• Bagian keenam menceritakan tentang percakapan Rahmi dengan Nimo di Malia setelah pulang dari pesta pernikahan salah satu temannya. Pada bagian ini Rahmi mengungkapkan semua perasaannya kepada Nimo, mengungkapkan obsesinya pada Nimo dan mengungkapkan kekecewanya ketika usahanya untuk mendekati Nimo tidak ditanggapi apa-apa oleh Nimo (Cintapuccino, hal. 101-113). Komunikasi yang dilakukan Rahmi tidak menghasilkan respon yang berarti dari Nimo sehingga maksud yang ingin disampaikan Rahmi pada Nimo tidak tersampaikan atau dengan kata lain prorses komunikasi yang terjadi tidak menghasilkan makna yang berarti bagi Nimo sehingga menyakiti perasaan Rahmi. Perasaan yang dialami oleh Rahmi dapat dikatakan sebagai konflik batin.
• Pada bagian ketujuh, kedelapan dan kesembilan dikisahkan bahwa Nimo melamar Rahmi untuk menjadi istrinya di saat Rahmi sudah menjadi calon istri Raka (Cintapuccino, hal. 152). Selain itu, juga menceritakan kembalinya ingatan Rahmi akan obsesinya pada Nimo dan Rahmi menganggap semua yang terjadi antara dirinya dengan Nimo akhir-akhir ini adalah sebuah pertanda. Seperti pada bagian keenam konflik batin yang dialami Rahmi pada bagian ini adalah sikap bimbang pada diri Rahmi dalam memilih antara cinta Raka atau obsesinya pada Nimo. Hingga akhirnya membuat Rahmi menjadi bingung akan keputusannya untuk menikah dengan Raka. Hal ini juga disebabkan karena sikap Raka yang menyerahkan urusan jodohnya pada Tuhan dan tidak gigih dalam memperjuangkan Rahmi untuk dirinya (Cintapuccino, hal. 159-180).
• Pada bagian kedua belas (Cintapuccino, hal. 191-208), mengisahkan perkelahian antara Raka dengan Nimo. Nimo kecewa dengan Raka yang tidak mau mempertahankan Rahmi sebagai calon istrinya ketika Rahmi dilamar oleh Nimo.
Konflik yang dialami oleh tokoh utama dalam novel meliputi pengambilan keputusan yang sulit dalam memilih antara cintanya dengan Raka atau dengan Nimo. Keputusan yang sulit harus segera diambil oleh tokoh utama. Mengingat usia yang sudah pantas untuk menikah mempengaruhi Rahmi dalam pengambilan keputusan. Selain itu, kehawatiran orang tua Rahmi pada anaknya yang belum juga menikah agar tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Selain dari konflik yang muncul pada ego masing-masing tokoh, adanya perbedaan budaya diantara para tokoh menjadi hal yang cukup penting untuk dibahas lebih lanjut.
Perbedaan budaya antara tokoh utama perempuan dengan tokoh laki-laki telah menjadi hal yang unik dalam proses interaksi dalam Cintapuccino. Perbedaan budaya dapat memicu terjadinya ketidaksesuaian antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Seperti halnya perbedaan budaya Sunda dengan budaya Jawa. Kedua budaya tersebut mempunyai perbedaan pada pola penerimaan terhadap orang lain yang akan menjadi anggota baru dalam keluarga besar. Tradisi ngariung (kumpul-kumpul) pada keluarga Sunda menjadi salah satu bagian dalam novel Cintapuccino. Begitu juga dengan tradisi permainan kartu moyet yang melengkapi acara ngariung tersebut. Permainan kartu monyet ini selain sebagai pelengkap dalam tradisi ngariung juga sebagai simbol penerimaan terhadap calon istri atau calon suami.
“Permainan kartu monyet ini selain tradisi yang harus diturun-temurunkan, adalah juga sebagai simbol penerimaan. Iya, penerimaan terhadap orang luar yang akan menjadi bagian keluarga besar kami. Ketika seseorang membawa calon istri atau suaminya dalam sebuah acara keluarga, belum tentu setelah beberapa kali datang diajak bergabung. Itu artinya para tetua belum begitu sreg dengan calon yang dibawa. Tapi lain cerita ketika permainan tengah berlangsung, salah satu Ua (kakak dari orang tua) atau Nin (nenek)/ Aki (kakek) mengajak bermain, itu berarti lampu hijau bahwa calon yang dibawa itu memuaskan, atau setidaknya lulus ujian tahap I untuk menjadi bagian dari keluarga besar kami (Cintapuccino, hal. 2-3).

Raka dan Nimo memperoleh perlakuan sama dari keluarga Rahmi ketika mereka akan meminang Rahmi. Keduanya lulus setelah ikut dalam permainan kartu monyet.
“Rekor kedua dari kartu monyet dipegang Raka. Pada kali keduanya dia ke Bandung dulu, Nin (Nenekku) dan Ua Iceu langsung mengajak dan mengajarinya bermain kartu monyet (Cintapuccino, hal. 5)”.

“… Itulah persisnya yang aku rasakan sekarang, saat aku menaiki tangga mesjid tempat akad nikah kami berlangsung. Dengan diapit oleh rombongan keluargaku (yang baru mengajak Nimo bermain kartu monyet kali ke-5 nya Nimo datang diacara keluargaku… (Cintapuccino, hal. 247)”.


Raka dan Nimo bukan berasal dari keluarga Sunda, tapi keduanya manyandang budaya Jawa. Namun, karena yang akan dipinang adalah Rahmi yang berbudaya Sunda, maka keduanya harus mengikuti budaya Sunda.
“Aku ingat, aku harus menelpon Raka siang itu sebelum dia take off mudik ke Yogya (Cintapuccino, hal. 8)”.

“Nimo itu punya satu adik cowok namanya Rian,… Mamanya aktif di Yayasan Sosial – orang Jawa Tengah, dan Papanya kerja di bank, kalo nggak salah sih orang Jawa juga… (Cintapuccino, hal. 41)”.

Dua budaya cukup sulit untuk disatukan. Apalagi bila tujuannya adalah ikatan pernikahan. Tentunya satu sama lain harus mengerti dan memahami budaya masing-masing, sehingga seduanya dapat saling menghargai dan menghormati.
4. Cinta Seorang Perempuan Muda
Cintapuccino adalah suatu karya yang menyajikan tentang tema cinta yang dijalani oleh para tokohnya. Cinta, dalam Cintapuccino, tidak hanya berarti tentang kebahagiaan saja, tetapi juga tentang bagaimana memperoleh kebahagiaan tersebut. Penokohan yang ada dalam novel Cintapuccino menggambarkan secara jelas tentang pentingnya unsur komunikasi, kompromi, komitmen, kepedulian, toleransi, tanggungjawab, rasa sayang, dan emosi pada sebuah hubungan. Karena ternyata cinta bukanlah unsur tak tergapai, tapi karena cinta itu adalah komitmen, kompromi, komunikasi, toleransi, tanggung jawab, keperdulian, rasa sayang, emosi, yang terkemas dalam satu kesatuan (dalam situs http://cahayahati.multiply.com/journal/item/15).
Komunikasi menjadi bagian yang penting dalam sebuah hubungan. Komunikasi menunjukkan bahwa seseorang dapat berinteraksi dengan orang lain. Ghozally (2005: 83) mengatakan bahwa komunikasi bisa dikatakan sebagai kunci utama untuk membuat suatu hubungan senantiasa harmonis, membahagiakan kedua belah pihak hingga segala problema yang dating bisa dihindari atau diselesaikan. Komunikasi juga dapat dimaknai sebagai upaya memahami antara individu yang satu dengan yang lain. Komunikasi bisa pula diartikan sebagai wahana saling menerima tanggung jawab. Selanjutnya Ghazally (2005: 84) mengatakan bahwa berkomunikasi berarti adanya usaha untuk saling memahami, menghormati dan menghargai.
Proses komunikasi yang terjalin antara Rahmi dengan Raka, serta antara Rahmi dan Nimo, secara tidak langsung menunjukkan adanya pola interaksi yang berdeba satu sama lain. Jalinan komunikasi yang lancer antara Rahmi dan Raka telah menjadian hubungan mereka semakin dekat dan mesra. Hal ini dapat kita lihat dari obrolan Rahmi Raka berikut ini.
“Selamat pagi Sayang…” (Cintapuccino, hal. 6).

“Duty call, Darling…nggak kok, Cuma sebentar, beres news jam 12 ntar langsung balik ke Yogya, naik pesawat jam 3.”
“Waah… miss you… nggak ada cerita mampir ke Bandung ya?” (Cintapuccino, hal. 7).

At last… Raka mencium bibirku, pertama sekilas, lalu rasanya susah deh melepaskan bibir kami yang sudah jadi satu. Maklum sudah hampir sebulan kami tidak bertemu (Cintapuccino, hal. 88).

Raka menarik tanganku, tapi sempat-sempatnya dia menciumi leher dan bibirku meskipun sekilas sebelum kami kembali masuk ke dalam (Cintapuccino, hal. 89).

… dengan nafas terengah-engah karena serangan Raka. Dia sekarang mengincar bibirku.
“Bye…” langsung aku tutup teleponku, melemparnya ke atas tenpat tidur dan membalas ciuman Raka dengan pikiran tak karuan (Cintapuccino, hal. 93).

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, kita dapat membuat suatu kesimpulan bahwa sebuah hubungan bila didukung dengan komunikasi yang baik maka hubungan akan senantiasa harmonis. Komunikasi dapat terjalin dengan baik tentunya karena diantara kedua belah pihak yang melakukan hubungan telah mempunyai emosi yang sama sehingga proses interaksi telah berhasil menghasilkan makna yang sesuai dengan kedua belah pihak.
Berbeda halnya dengan komunikasi yang dilakukan antara Rahmi dengan Nimo yang seolah-olah menggambarkan Rahmi berinteraksi hanya dengan diri sendiri saja tanpa mendapat respon dari Nimo sehingga ia hanya mendapat memperoleh makna hanya dari dirinya sendiri. Makna yang Rahmi dapat hanya membuat ia merasa kecewa, marah dan kesal sendiri. Hal ini dapat kita lihat melalui percakapan Nimo dengan Rahmi sewaktu di Malia berikut ini.
Aku lantas berdiri, “Lo tau nggak mo, gue nggak tau lo amnesia apa nggak, tapi seharusnya lo inget ini! Waktu lo kerja di Oklahoma dan gue kontak lo lewat email, lo pernah janji kalau pulang bakalan kontak gue… dan lo ingat apa yang gue dapat? Gue telpon lo waktu itu.. dengan semua harga diri yang gue punya, gue telpon lo, gue ajakin lo pergi, dan lo kayaknya tertarik pun nggak… oke trus beberapa tahun lagi ke depannya, gue akhirnya berhasil lagi kontak lo lewat sms… gue ucapin selamat ulang tahun buat lo, yup, gue tahu tanggal lahir lo, 8 agustus 1976.….” (Cintapuccino, hal. 111).

Percakapan antara Rahmi dan Nimo di atas menceritakan kemarahan dan kekecewaan Rahmi terhadap Nimo. Hal ini juga secara tidak langsung menunjukkan bahwa sebuah komunikasi individu seharusnya memang melibatkan individu lain sebagai objek agar proses pengolahan makna dari proses komunikasi tersebut berhasil. Dengan berhasilnya proses komunikasi tersebut maka dapat dikatakan bahwa interaksi yang dilakukan oleh seorang individu juga telah berhasil. Apabila proses komunikasi tersebut tidak mendapatkan respon yang nyata dari pihak lain maka yang akan terjadi adalah ketidaksesuaian makna yang dapat menimbulkan adanya konflik antar individu. Seperti yang terjadi pada komunikasi antara Rahmi dan Nimo.
Pentingnya kompromi dan komitmen pada sebuah hubungan bertujuan agar pihak-pihak yang bersangkutan dpat membuat suatu pilihan dalam hidupnya. Seperti halnya Raka yang berkomitmen untuk mennjalin hubungan yang serius dengan Rahmi sampai akhirnya ia berkompromi dengan Rahmi untuk mengakhiri hubungan mereka, serta Nimo yang berkomitmen untuk menikahi Rahmi.
“Maksud kamu apa?” Bukannya jadi tolol, tapi aku butuh satu perkataan yang lebih pasti. Ini fase yang lebih besar lagi dari sebuah hubungan… mulai berkomitmen! (Cintapuccino, hal. 140).

Itu adalah cerita tentang bagaimana akhirnya Raka betul-betul resmi jadi pacarku (Cintapuccino, hal. 140).

“Perasaan aku sama kamu masih belum berubah sedikitpun… tapi jujur… aku sekarang belum pengen ke sana lagi,” Raka mencoba memberi isyarat yang sehalus mungkin.
Untung aku pintar… rasanya aku mulai menangkap maksud Raka bahwa sekarang keinginannya menikah sudah hilang untuk alas an hanya dia dan Tuhan yang tahu (Cintapuccino, hal. 235).

Aku memberi Nimo kesempatan kedua (Cintapuccino, hal. 246).

…. Karena for what is worth, obsesi – sekarang aku lebih suka menyebutnya impian – aku untuk bisa bersama Nimo dan menjadi istrinya terwujud, dengan jalan berliku yang luar biasa (Cintapuccino, hal. 248).

Selain komunikasi, komitmen dan kompromi, selanjutnya unsure kepedulian dan toleransi pada kisah cinta dalam novel Cintapuccino menunjukkan adanya rasa sayang antara Rahmi dengan Raka dan antara Rahmi dengan Nimo. Kepedulian Raka pada Rahmi ketika Rahmi keluar dari DC dengan memberikan saran dan dukungan untuk berwiraswasta membuat distro. Kepedulian Raka telah membuat Rahmi bangkit dari quarter life crisis-nya (Cintapuccino, hal. 133).
Unsur-unsur tersebut di atas sangat penting dalam membina suatu hubungan. Akan tetapi, unsur-unsur tersebut harus disertai pula dengan ikatan emosi diantara individu. Hubungan yang telah terjalin secara otomatis akan memberikan adanya sikap tanggung jawab dari para individu tersebut. Jika seseorang telah siap menjalin hubungan dengan orang lain maka ia juga harus siap dengan tanggug jawab yang akan dia emban. Sikap tanggung jawab tersebut misalnya saja sikap saling melindungi dan tidak saling menyakiti.
Persoalan umur bagi seorang perempuan untuk menikah di Indonesia telah menjadi permasalahan yang cukup sulit bagi perempuan itu sendiri dalam menjalankan kesehariannya di masyarakat. Untuk itulah unsure-unsur itu ada karena bagi kaum perempuan, dalam menjalin suatu hubungan harus ada suatu komitmen yang jelas. Berbagai permasalahan perempuan Indonesia diantarai oleh uniknya budaya bangsa Indonesia yang berbeda-beda. Tuntutan usia menikah dibebankan pada perempuan Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan perempuan-perempuan negara barat (dalam situs www.icha.rahmanti.com). Untuk melihat rata-rata usia menikah dapat dilihat pada tabel di bawah ini.






Rata-rata Umur Perkawinan menurut Daerah dan jenis kelamin, Indonesia, 1992-2005

Tahun Perkotaan Perdesaan Total
Perempuan Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Laki-laki
1992. 24.0 27.2 20.9 24.9 22.0 25.8
1993. 23.9 27.4 20.8 24.8 22.3 26.0
1994. 24.5 27.7 21.7 25.2 22.7 26.1
1995. 24.1 27.4 21.0 24.9 22.3 25.9
1996. 24.4 27.6 21.1 24.9 22.5 26.0
1997. 24.6 27.7 21.2 25.1 22.6 26.2
1998. 24.7 27.9 21.2 25.1 22.7 26.3
1999. 24.8 28.1 21.5 25.6 23.0 26.7
2000. 24.6 28.0 21.5 25.5 22.9 26.7
2001. 24.0 27.4 21.0 25.2 22.4 26.2
2002. 24.4 27.6 21.4 25.4 22.9 26.5
2003. 24.5 27.8 21.7 25.7 23.0 26.7
2004. 24.3 27.6 21.6 25.7 22.9 26.6
2005. 24.6 27.9 21.9 26.1 23.2 26.9
Sumber: Susenas 1992-2005 (http://www.datastatistikindonesia.com).

Berdasarkan tabel diatas maka dapat kita simak bahwa usia menikah lebih dibebankan pada kaum perempuan daripada laki-laki. Usia rata-rata menikah bagi perempuan adalah 22-23 tahun sedangkan bagi laki-laki adalah 25-26 tahun. Pada wilayah perkotaan usia menikah bagi perempuan adalah 23-24 tahun sedangkan bagi laki-laki adalah 27-28 tahun.
Adanya perbedaan usia menikah antara laki-laki dan perempuan secara sosial antara lain adanya paham bahwa laki-laki harus dapat menafkahi perempuan sehingga laki-laki harus mempunyai penghasilan yang mapan sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah. Hal ini juga didukung adanya paham ajaran agama yang mengatakan bahwa suami berkewajiban menafkahi istrinya. Selain itu, masyarakat memandang negatif terhadap perempuan yang belum juga menikah pada usia tertentu.
Tuntutan usia menikah yang dibebankan pada perempuan secara psikologis telah membuat perempuan mudah mengalami tekanan. Bagaimana tidak, anggapan yang negatif akan segera disandang seorang perempuan bila ia tak kunjung menikah jika sudah melewati usia 25 tahun, misalnya saja bisa dicap sebagai perawan tua, atau ‘perempuan nggak laku’. Menurut Esterlianawati (2007 dalam situs http://esterlianawati.wordpress.com/2007/07/20/menikah-atau-melajang-sebuah-pilihan/) mengatakan sebagai berikut.
“Perempuan memang menerima tuntutan lebih besar untuk menikah, terutama dari keluarganya. Simone de Beauvoir, feminis eksistensialis, pernah mengatakan banyak orangtua menganggap anak perempuannya tidak akan bahagia jika tidak bersuami. Apalagi dalam masyarakat yang menganut budaya patriarki seperti Indonesia, eksistensi perempuan sudah dikonstruksi sedemikian rupa untuk dilekatkan dalam konteks hubungannya dengan suami. Tidak heran jika banyak kaum muda tertekan ketika belum mendapatkan pasangan di usia yang sudah dianggap pantas menikah. Pada akhirnya pernikahan pun menjadi sesuatu yang wajib dilakukan agar tidak dianggap menyimpang dari norma masyarakat dan terhindar dari stereotip negatif”.

Demikian juga halnya dengan tokoh Rahmi yang ada dalam novel Cintapuccino. Pandangan orang tua Rahmi terhadap dirinya yang belum juga menikah di usia 26 tahun menjadi beban tersendiri, baik bagi orang tua maupun bagi Rahmi. Orang tua Rahmi merasa sangat khawatir apabila Rahmi sampai harus menjadi perawan tua dan mendapat cap yang negatif dari masyarakat sekitarnya. Apabila anak belum juga menikah pada usia yang sudah seharusnya, orang tua akan merasa sedih karena merasa belum selesai kewajibannya sebagai orang tua membimbing anaknya masuk pada fase yang berikutnya yaitu berumah tangga.
Pernikahan merupakan sebuah momen yang sangat berharga bagi seseorang. Baik perempuan atau laki-laki sangat menantikan momen tersebut. Selain ajaran agama yang memerintahkan hal tersebut, masyarakat juga sudah menjadikan pernikahan sebagai sebuah tradisi adat yang telah dilakukan secara turun temurun sehingga pernikahan dianggap suci dan sakral. Menurut Esterlianawati (2007 dalam situs http://esterlianawati.wordpress.com/2007/07/20/menikah-atau-melajang-sebuah-pilihan/) mengatakan bahwa pernikahan tetap dianggap sebagai momen penting yang masih senantiasa ditunggu sepanjang perjalanan hidup seseorang.
Masyarakat kita masih melekatkan pernikahan sebagai bagian identitas seseorang. Oleh karena itu, jika ada seseorang yang belum kunjung menikah diusia yang sudah sepantasnya, masyarakat akan memberi penilaian yang negatif terhadap orang tersebut. Esterlianawati juga mengatakan bahwa stereotip negatif akan ditujukan bagi mereka yang belum menikah di usia yang dianggap sudah sepantasnya. Khususnya bagi perempuan. Label perawan tua yang diberikan kepada perempuan hanya merupakan permulaan. Perempuan dingin, judes, galak, frigid, sombong, kesepian, terlalu pemilih, tidak laku, akan menyusul dalam daftar stereotip lainnya terhadap perempuan lajang.
5. Cinta Ibarat Kopi Capuccino
Inilah pengibaratan cinta dalam novel Cintapuccino. Bentuk realisasi dari cinta pun tidak seragam dan tidak tunggal (http://cahayahati.multiply.com/journal/item/15). Oleh karena itu, tidaklah salah apabila masyarakat mempunyai anggapan yang beragam tentang makna cinta.
Cinta diibaratkan sebagai minuman kopi. Kopi itu sendiri banyak sekali macamnya, diantaranya kopi hitam atau kopi klasik, dan kopi dengan campuran espresso atau yang biasa kita kenal sebagai kopi cappuccino. Kedua jenis kopi ini cocok untuk diterapkan pada tokoh dalam novel Cintapuccino. Cerita cinta yang terjadi dalam novel ini adalah cerita cinta antara Rahmi, Raka, dan Nimo. Raka dan Nimo mencintai perempuan yang sama. Hal ini diungkapkan Rahmi, sebagai berikut.
Raka,
Buat aku kalo cinta itu secangkir kopi item, aku sama Nimo adalah cappuccino-olahan espresso (ekstrak kopinya lebih kuat, sekuat keyakinan yang bikin obsesiku mengkrinos, dan perasaanku skrg that i have to do this). Jadi bukan kopi hitam reguler, karena ada obsesi, ada manis, pait, semuanya deh….
….kalo cinta kita itu kopi reguler, cinta yang natural, klasik, yang meant to be… gak macem-macem, so pure spt habit-nya black coffee… (Cintapuccino, hal. 256).

Jika cinta antara Rahmi dengan Raka diibaratkan sebagai sebuah kopi klasik, maka itu memang benar karena hubungan di antara keduanya berjalan baik-baik saja. Kalaupun jika ada masalah diantara mereka, maka keduanya akan membahasnya secara baik-baik dan setelah itu selesailah masalahnya. Hal ini juga didukung dengan sifat Raka yang penyayang dan penyabar (Cintapuccino, hal. 217). Bersama Raka, Rahmi selalu merasa tertolong dan selalu mendapat support dalam menghadapi semua masalah yang dihadapinya.
Berbeda halnya dengan cinta antara Rahmi dan Nimo. Sejak awal bertemu Rahmi sudah terobsesi dengan Nimo. Begitu terobsesinya sampai-sampai Rahmi mengamati semua mantan Nimo, memberi perhatian kepada Nimo secara sembunyi-sembunyi, hingga mencari tahu tentang seluk beluk keluarga Nimo. Tidak hanya itu, Rahmi juga melakukan SWOT atau Strength, Weakness, Opportunity, and Threat terhadap Nimo. Uraian SWOT yang dilakukan Rahmi adalah sebagai berikut:
• Strength; (a) kayaknya Nimo juga naksir gue, dia sering nanyain gue, gangguin gue, oya, dia juga sering nanyain gue lewat Dion; (b) gue tahu segala macam soal Nimo.
• Weakness; (a) gue sering gagu didepan dia, salting (salah tingkah) melulu; (b) gue gengsi negur dia duluan, jadi suka sok cuek kalau di depan Nimo.
• Opportunity; gue satu organisasi sama dia, satu sekolah.
• Threat; Nimo punya pacar Reta (Cintapuccino, hal. 43-44).

Tapi sangat disayangkan, cinta Rahmi tidak berbalas. Namun, setelah beberapa tahun kemudian akhirnya Rahmi pun dapat mewujudkan obsesi cintanya. Hal ini pun ia lalui setelah mengalami berbagai permasalahan yang rumit. Disinilah, letak kecocokan antara kopi cappuccino dengan cinta Rahmi dan Nimo. Obsesi yang sangat kuat memberikan berbagai warna yang sangat berarti dalam perjalanan cinta keduanya (rasa espresso sebagai ekstrak kopi yang lebih kuat), diantaranya sebagai berikut:
• Dibumbui dengan segudang rasa pahit yang dialami Rahmi ketika ia menyadari bahwa Raka ternyata tidak seperti yang ia kira, yaitu sedikit memahami tentang dirinya serta ketika Raka tidak mau memperjuangkan dirinya hingga akhirnya ia berpisah dengan Raka (Cintapuccino, hal. 215-235)
• Rasa kecewa, ketika Nimo datang begitu saja menghancurkan kehidupan Rahmi yang telah lama ia rancang bersama Raka serta ketika Rahmi menyadari bahwa ternyata Nimo tidak pernah mengatahui bahwa Rahmi mencintainya dan Nimo terlambat menyadari bahwa ternyata ia juga mencintai Rahmi (Cintapuccino, hal. 93)
• Rasa penasaran, Rahmi terhadap Nimo ketika obsesinya benar-benar mengkronis sampai-sampai Rahmi membuat SWOT tentang Nimo (Cintapuccino, hal. 43-44)
• Rasa senang, cinta yang menyenangkan dan kemesraan yang terjadi antara Rahmi dan Raka telah memberikan banyak kenangan bagi Rahmi (Cintapuccino, hal. 6,7,88,89,93);
• Rasa bahagia, di saat impian Rahmi untuk menjadi istri Nimo telah terwujud (Cintapuccino, hal. 248). Perpaduan rasa yang dihasilkan dari ramuan secangkir kopi cappuccino sangat nikmat untuk disajikan di senja hari.











BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Cinta sebagaimana yang kita ketahui adalah mempunyai banyak sekali makna. Pemaknaan yang beragam dikarenakan ruang cinta tidak mempunyai batasan. Terlalu luas, terlalu tinggi, dan terlalu agung untuk dibatasi pada sebuah definisi saja. Begitu luasnya cinta hingga tidak mati termakan zaman. Berbagai media digunakan untuk mengapresiasikan cinta. Salah satu dari sekian banyak media yang digunakan adalah media karya sastra. Karya sastra merupakan media yang tepat dalam menyalurkan tema-tema cinta. Topik yang disajikan tidak pernah mati. Melalui karya sastra, seperti novel, cerita cinta akan terus hidup. Sama halnya dengan novel Cintapuccino yang sangat kental mengangkat tentang persoalan cinta.
Cinta adalah anugerah yang sebaiknya kita lestarikan. Cintapuccino telah menghadirkan bentuk yang berbeda tentang makna cinta. Cinta sebagai sebuah obsesi dan cinta diibaratkan seperti secangkir minuman kopi. Inilah makna lain yang disajikan dalam novel Cintapuccino melalui karakter tokoh-tokoh di dalamnya. Cintapuccino, sebuah novel tentang cinta yang sarat dengan keseharian kita sehingga keberadaannya dirasa begitu nyata dalam kehidupan. Hal ini dapat kita lihat pada kehidupan sehari-hari yang kita lalui selalu bergumul dengan cinta.
Cinta seringkali membuat manusia lupa akan dirinya. Secara tidak sadar, ia hanya memikirkan orang yang dicintainya saja. Tidak jarang pula, cinta membuat seseorang menjadi berani dalam mengambil berbagai keputusan hidup yang sulit. Tapi, itulah cinta. Apapun dimensinya, cinta akan selalu ada menyertai setiap nafas hidup manusia. Karena cinta adalah cinta.

B. Implikasi
Pemaknaan cinta yang demikian banyak bukan berarti bahwa kita bisa seenaknya menafsirkan makna cinta. Manusia sebagai makhluk yang tercipta karena cinta hendaknya tidak menafsirkan cinta secara setengah-setengah. Adanya istilah-istilah negatif tentang cinta, seperti putus cinta atau patah hati, cinta mati, cinta erotis, atau bahkan cinta buta, jangan dijadikan sebagai suatu alasan bahwa cinta bermakna negatif. Akan tetapi, sebagai manusia harus lebih bijak dalam memahami makna cinta. Melalui istilah-istilah tersebut hendaknya kita dapat belajar tentang agungnya makna cinta.
Cinta adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada seluruh umat manusia. Karena cinta adalah sangat agung, sehingga tidaklah layak untuk dinodai oleh siapa pun. Keagungan cinta seharusnya kita lestarikan dan pertahankan untuk keberlangsungan hidup umat manusia.



DAFTAR PUSTAKA

Al-Jauziyyah, Ibnu Qayyim. 1417 H. Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Cetakan Kedua. Jakarta: Darul-Falah.

Angela, Primadona. 2005. Quarter Life Fear. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Anonim. 2005. Mencari Cinta. Editor Fitri R. Ghozally. Jakarta: Edsa Mahkota.

Datakisni, Tri & Salis Yuniardi. 2004. Psikologi Lintas budaya. Malang: Universitas Muhammadiyah.

Eagleton, Terry. 2006. Teori Sastra: Sebuah Pengantar Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.

Escarpit, Robert. 2005. Sosiologi Sastra. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Faruk. 1994. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kartodirdjo, Sartono. 1991. Metode Penggunaan Bahan Dokumen dalam Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Redaksi: Koentjaraningrat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kartono, Kartini. 1990. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Cetakan Keenam. Bandung: CV Mandar Maju.

Kleden, Ignas. 2004. Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-Esai Sastra dan Budya. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Kuntowijoyo. 1999. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Moleong, Lexy J.. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Muzir, Inyiak Ridwan. 2008. Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer. Yogyakarta: Ar-ruzz Media.

Palmer, Richard E. 2005. Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Prasetyo, Joko Tri. 1998. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Rahmanti, Icha. 2007. Cintapuccino. Cetakan Kesembilan. Jakarta: Gagas Media.

Rahardjo, Mudjia. 2007. Hermeneutika Gadamerian: Kuasa Bahasa dalam Wacana Politik Gus Dur. Malang: UIN-Malang Press.

Ratna, Nyoman Kutha. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ratna, Nyoman Kutha. 2006. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra dari Strukturalisme hingga Poststrukturalisme Perspektif Wacana Naratif. Cetakan Kedua. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ritzer, George. 2002. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Cetakan Ketiga. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

____________. 2004. Teori Sosiologi Modern. Cetakan Keenam. Jakarta: Kencana.

Sarwono, Sarlito Wirawan. 1999. Psikologi Sosial: Individu dan Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka.

Sepatumerah, Okke. 2007. Indonesian Idle. Jakarta: Gagas Media.

Sugihastuti, & Suharto. 2005. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tresidder, Megan. 1997. Risalah Cinta dan Nafsu judul asli The Language of Love, a Celebration of Love and Passion. Yogyakarta: Katahati.

Winkel, WS. 1983. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia.



Sumber Lain:
Asyhadie, Nuruddin. 7 November 2007. “Chicklit Buatan Asli Indonesia”. Dalam Situs http://fordisastra.com/modules.php?name=nems&file=article&sid=515&mode=tread&order=0&thold=0. Diakses 30 November 2007.

Cinemags. 2007. “Cintapuccino”. Cinemags Edisis ke-97 Agustus 2007, hal. 114. Bandung.

Cinta, Obsesi, Nafsu. Dalam situs http://www.freelists.org/archives/kepalabatu/10-2001/msg00007.html. Diakses tanggal 8 Mei 2008.

Coretan: Metafora Cinta. Dalam situs http://cahayahati.multiply.com/journal/item/15, 2005. diakses tanggal 8 Mei 2008.

Dewi, Eriyanti Nurmala. 29 Januari 2005. “Sastra Chicklit, Sastra Kaum Perempuan Urban”. Dalam Situs http://pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0105/29/khazanah/lainnya02.htm. Diakses 30 November 2007.

El Moezany, Matroni. Cinta dan Kita dalam Sastra. Dalam situs http://www.sinarharapan.co.id/berita/0701/06/hib07.htm. Diakses tanggal 8 Mei 2008.

Esterlianawati. 2007. Menikah atau Melajang, Sebuah Pilihan. http://esterlianawati.wordpress.com/2007/07/20/menikah-atau-melajang-sebuah-pilihan/. Diakses 30 Mei 2008.

Jessica, dalam situs http://www.duniawanita.com/index.php?option=com_content&teks=view&id=32&Itemid=7. Diakses tanggal 26 Maret 2008.

Loekito, Medy & Asvega. Sastra Feminis Indonesia, Adakah?. 29 Februari 2004. www.cybersastra.net.

Nugraha, Rachmat. Senandung Cinta dalam Sastra. Dalam situs http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/01/senandung-cinta-dalam-sastra.html. Diakses tanggal 10 Mei 2008.

Pari, Faris. 2001. “Hermeneutika: Sebuah Analisis Synchronik Konsep Rekonstruksi, Konstruksi, dan Teks”. Dalam Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat. Vol. III, No. 1, 2001. Jakarta: Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cetakan Pertama. Jakarta: Balai Pustaka.

Yanti, 2005. Sihir Cinta: Sebuah Resensi. Dalam situs http://www.bukukita.com/bacareview.php?idbook=4091&revNo=127.ferina.20. Diakses tanggal 27 Maret 2008.

http://forum.tarbiyahdaily.com/viewtopic.php?f=51&t=68. Diakses tanggal 26 Maret 2008.

http://aufklarung.org/treatise/essay/kebenaran-menurut-gadamer.mspx, 30 Agustus 2007. Diakses tanggal 26 Maret 2008.

www.datastatistikindonesia.com.
www.icha.rahmanti.com.
Katalog Gagas Media Tahun 2007.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar